Makalah

makalah 1

MAKALAH

KEWAJIBAN MU’ALLIM

Diajukan Guna Melengkapi Tugas

Mata kuliah : Hadits Tarbawi

Dosen Pengampuh: Arifana Nur Kholiq, L.c.

     Di Susun Oleh:

 

Ahmad Saihul Rizal           ( 11010160 )

Semester :  VI  ( ENAM )

 

FAKULTAS TARBIYAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM WALI SEMBILAN SEMARANG

2013

 

KEWAJIBAN MU’ALLIM

BAB I PENDAHULUAN

Pendidik merupakan seseorang yang berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan, pendidik identik dengan seorang guru, namun dalam arti yang luas pendidik tidak terbatas hanya pada seorang  guru saja, misalnya seorang dosen, konselor, pamong belajar, widyasuara, tutor, instuktur, fasilisator, juga dikatakan sebagai seorang pendidik. Dalam analisa Zainal Efendi Hasibuan dari hadis-hadis Rasulullah SAW, terdapat sejumlah istilah yang di gunakan untuk menyebut seorang guru yaitu Murabbi, Mu’allim, Mudarris, Muzakki, Mursyid, dan Mutli.

Pendidik tidak hanya terpaku pada posisi guru saja, namun orang tua merupakan pendidik  yang mempunyai tanggung jawab yang paling besar kepada anaknya. Dikatakan demikian, karena orang tua merupakan pendidik yang paling berpengaruh besar terhadap perkembangan maupun psikologi anak tersebut. Dalam sebuah hadist yang menyatakan bahwa orang tua merupakan pendidik yang akan di mintai pertanggung jawabannya tentang urusannya yakni anak didik.

Untuk lebih jelasnya dalam makalah ini akan dibahas lebih mendalam mengenai tanggung jawab seorang pendidik menurut hadist. Dan dikemukakan pula mengenai hadist-hadist yang berkenaan dengan tanggung jawab pendidik.

BAB II RUMUSAN MASALAH

  1. Apakah pengertian pendidik  ( mu’allim ) ?
  2. Bagaimanakah kewajiban/ tanggung jawab pendidik ( mu’allim) ?
  3. Bagaimanakah etika seorang pendidik ( mu’allim ) ?

BAB III PEMBAHASAN

  1. Pengertian pendidik ( mu’allim )

Secara etimologi, pendidik adalah orang yang melakukan bimbingan. Pengertian ini memberi kesan bahwa pendidik adalah orang yang melakukan kegiatan dalam pendidikan.[1]

Dalam UU Sisdiknas No.20 tahun 2003, dijelaskan bahwa pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyasuara, tutor, instruktur, fasilisator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. Secara bahasa pendidik adalah orang yang mendidik. Berdasarkan analisa yang di lakukan oleh Zainal Effendy Hasibuan, dari hadits-hadits Rasulullah SAW, terdapat sejumlah istilah yang di gunakan untuk menyebut guru, yaitu Murabbi, Mu’allim, Mudarris, Muzakki,Mursyid dan Mudli.[2]

Guru adalah orang yang bertanggung jawab mencerdaskan kehidupan anak  didik. Pribadi susila yang cakap adalah yang diharapkan ada pada diri setiap anak didik. Guru harus bertanggung jawab atas segala sikap, tingkah laku, dan perbuatannya dalam rangka membina jiwa dan watak anak didik.[3]

Pendidik dalam Islam ialah siapa saja yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik. Dalam islam, orang yang paling bertanggung jawab tersebut adalah orang tua (ayah dan ibu) anak didik. Tanggung jawab itu di sebabkan sekurang-kurangnya ada dua hal yaitu :

  1. Kodrat: kedua orang tua di takdirkan menjadi orang tua anaknya, dan karena itu di takdirkan pula bertanggung jawab mendidik anaknya.
  2. Kepentingan kedua orang tua: orang tua berkepentingan terhadap kemajuan perkembangan anaknya adalah sukses orang tua

Dijelaskan dalam sebuah hadits :

 والرجل لرا ع في اهله وهو مسءو ل عن ر عيته

  (رواه متفق عليه )

Yang artinya “lelaki itu (suami) adalah pemimpin/ pembimbing di dalam keluarganya (isteri dan anak-anak) dia ditanya/ dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya.”( H.R. Mutafaq alaih).[4]

  1. Kewajiban/ Tanggung Jawab Pendidik (Mu’allim)

Nabi Bersabda:

عَن إِبنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنهُ قَالَ: رَسُولُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: كُلُّكُم مَسعُلٌ عَن رَعِيَّتِهِ: فَالإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسعلً عَن رَعٍيَّتِهِ, وَالرَّجُلُ رَاعٍ فٍي أَهلِهِ وَهُوَ مَسؤُلَ عَن رَعِيَّتِهِ, وَالمَرأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيتِ زَوجِهَاوَهِيَ مَسؤُلَةٌ عَن رَعِيَّتِهَا, وَالخَادِمُ رَاعٍ فٍي مَالَ أبِيهِ وَهُوَ مَسؤُلٌ عَن رَعِيَّتِهِ فَكُلُّكُم رَاعٍ وَكُلُّكُم مَسؤُلٌ عَن رَعِيَّتِهِ(حديث صحيح رواه الخمسه)

“Setiap kamu bertanggung jawab atas kepemimipinanya: maka seorang imam adalah pemimpin dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinanya, seorang laki-laki adalah pemimpin di dalam keluarganya dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinanya, perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya,pembantu adalah peminpin/penanggung jawab terhadap harta tuanya dan dia bertanggung jawab atas kepimimpinanya, seorang anak adalah pemimpin terhadap harta ayahnya dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinanya, maka setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu bertanggung jawab atas kepemimpinannya”.

Dari hadits dapat dipahami bahwa tanggung jawab merupakan kewajiban individu sebagai hamba Allah yang kepadanya dititipkan amanat untuk menjadi pemimpin atau penguasa, baik pemimpin dirinya sendiri maupun pemimpin terhadap apa dan siapapun yang menjadi tanggung jawabnya.

Tanggung jawab merupakan suatu kondisi wajib menanggung sesuatu sebagai akibat dari keputusan yang diambil atau tindakan yang dilakukan (apabila terjadi sesuatu dapat dipersalahkan), Tanggung jawab juga dapat diartikan sebagai suatu kesediaan untuk melaksanakan dengan sebaik-baiknya terhadap tugas yang di amanatkan kepadanya, dengan kesediaan menerima segala konsekuensinya.

Guru atau pendidik sebagai orang tua kedua dan sekaligus penaggung jawab pendidikan anak didiknya setelah kedua orang tua di dalam keluarganya memiliki Tanggung jawab untuk memberikan pendidikan yang baik kepada peserta  didiknya. Apabila kedua orang tua menjadi penanggung jawab utama pendidikan anak ketika dia diluar pendidikan formal/sekolah, maka guru atau pendidik merupakan penaggung jawab utama pendidikan anak melalui proses pendidikan formal anak yang berlangsung di sekolah, karena tanggung jawab merupakan konsekuensi logis dari sebuah amanat yang dipikulkan di atas pundak para guru dan pendidikan di lingkungan sekolahnya.

Jadi, guru harus bertanggung jawab atas segala sikap, tingkah laku, dan perbuatannya dalam rangka membina jiwa dan watak anak didiknya.[5]

  1. Etika Seorang Pendidik ( Mu’allim )

Sebagai subtitusi orang tua, guru berkewajiban membawa peserta didiknya ke arah yang sesuai dengan tujuan pendidikan, dan sesuai dengan apa yang dia lakukan itulah nantinya seorang guru akan mendapatkan balasannya, karena pada dasarnya setiap individu pada telah tergadai dengan apa yang diusahakanya.

Firman Allah:

كُلُّ نَفسٍ بِماَ كَسَبَت رَهِينَة

Bahwa setiap jiwa itu telah tergadai (terikat) dengan apa yang dikerjakanya. Karena itu sudah seharusnya sebagai pemimpin dan sekaligus pelayan, seorang guru bekerja secara profesional, memberikan pelayanan yang optimal kepada.

Peserta didiknya, dan bekerja dengan penuh kesabaran dengan membawa peserta didiknya menuju cita-cita pendidikan. Karena Nabi memerintahkan kepada para pendidik untuk tidak mempersulit dan membuat mereka riang. Sebagaimana Sabdanya :

عَن إِبنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: علِّمُوا وَيَسِرُوا, وَبَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا َإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُم فَليَسكُ (رواه احمد والبخاري)

“Dari Ibnu Abbas r.a. berkata: Rasulullah saw. Bersabda: Ajarilah olehmu dan mudakanlah, jangan mempersulit, dan gembirakanlah jangan membuat mereka lari, dan apabila seorang di antara kamu marah maka diamlah. (H.R Ahmad dan Bukhori)”

Perintah Nabi di atas memberikan pelajaran kepada para pendidikan bahwa di dalam melaksanakan tugas pendidikan para guru/pendidik dituntut untuk menciptakan suasana yang kondusif dan menyenangkan, berupaya membuat peserta untuk merasa betah dan senang tinggal di sekolah bersamanya, dan bukan sebaliknya justru memberikan kesan seram agar para siswa takut dan segan kepadanya, karena sikap demikian justru akan membuat siswa tidak betah tinggal di sekolah dan sekaligus akan sulit untuk bisa mencintai para guru beserta semua ilmu ataupun pendidikan yang diberikan kepada mereka.

Dalam hadits yang lain tentang bagaimana guru harus bersikap dan memperlakukan murid-muridnya, Nabi bersabda:

عَن أَبِي هُرَيرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنهُ قالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّي اللهِ عَلَيهِ وَسَلَّم: عَلِّمُوا وَلاَتُعَنِّفُوا, فَإِنَّ المُعَلِّمَ خَيرٌ مِنَ المُعَنِّفِ ( رواه البيهقي)

“Jangan engkau berlaku kejam/bengis, karena sesungguhnya guru itu lebih baik daripada orang yang bengis. (H.R. Baihaqi)”.

Sebagai pemimpin dan sekaligus pelayan bagi peserta didiknya, guru yang baik akan berlaku adil dan memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada peserta didiknya, karena di samping sikap yang demikian akan mendapatkan perlindungan dari Allah pada hari di mana tidak ada perlindungan selain dari Allah. Nabi Bersabda:

عَن أَبِي هُرَيرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّي اللهِ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: سَبعَةٌ يُظِلُهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَومَ لاَ ظِلَّي إِلاَّ ظِلُّهُ : إِمَامٌ عَادِلٌ وَشَابٌّ نَشَأَفِي عِبَادَةِاللهِ وَرَجَلٌ قَلبُهُ مُعَلَّقٌ بِالمَسَاجِدِ إِذَا خَرَجَ مِنهُ حَتَّي يَعُزدَ إِلَيهِ وَرَجُلاَنِ تَحَابَفِي اللهِ فَاجتَمَعَا عَلَي ذَلِكَ وَافتَرَقَاعَلَيهِ, وَرَجُلٌ ذَكَارَاللهَ خَالِيًا فَفَاضَت عَينَاهُ وَرَجُلٌ دَعَتهُ امرَأَةً ذَاتَ مَنصَبٍ وَجَمَالَ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهَ رَبَّالعَلَمِينَ وَرَجُلُ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَحفَاهَا حَتَّي تَعلَمَ شِمَالُهُ مَاتُنفِقُ بِيَمِينِهِ (رواه الخمسه)

“Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw Bersabda: Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan perlindungan Allah pada hari tidak ada perlindungan selain dari perlindungan-Nya, mereka itu adalah:Pemimpin yang adil. Pemuda yang giat beribadah kepada Allah, orang yang jika keluar dari masjid hatinya masih tergantung padanya sampai dia kembali lagi ke masjid, dua orang yang saling mengasihi karena Allah, sehinnga keduanya berkumpul karena Allah dan berpisah juga karena Allah, seorang yang mengingat Allah dalam kesunyian sampai berlinang air mata, orang yang diajak berbuat dosa oleh perempuan bangsawan cantik maka dia mengatakan: sesungguhnya aku takut kepada Allah semesta alam, dan orang yang bersedekah dengan suatu pemberian, maka dia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kananya”.

Tujuh orang sebagaimana tersebut di atas termasuk di dalamnya adalah imam yang dapat dikonotasikan dengan pendidik, karena pendidik adalah orang yang bertanggung jawab terhadap jalanya proses pendidikan dan oleh karenanya pertanggungjawaban itu nantinya akan dipertanyakan di hadapan pengadilan Allah pada hari perhitungan. Oleh karena itu seorang pendidik yang bersikap adil dan bijaksana di dalam mengasuh, membimbing dan mengelola peserta didiknya sebaigaimana diungkapakan nabi tentang seorang pemimpin yang adil, tentu bagi mereka layak untuk mendapatkan perlindungan Allah di hari kiamat.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk mendapatkan perlindungan dari Allah pada hari kiamat di mana tidak ada perlindungan selain dari perlindungan-Nya, maka seorang pemimpin sebagaimana pula pendidik dituntut untuk berlaku adil terhadap siapapun yang berada dalam wilayah kepemimpinannya.[6]

BAB IV KESIMPULAN DAN PENUTUP

  1. Kesimpulan

Pendidik adalah orang yang melakukan bimbingan, hal ini berarti pendidik dapat diartikan sebagai orang yang melakukan kegiatan dalam pendidikan. Pendidik tidak hanya terpaku pada guru yang kita kenal selama ini, namun orang tua juga dikatakan sebagai pendidik yang bertanggung jawab dalam mendidik serta membimbing anaknya agar bisa menjadi manusia yang berguna bagi orang yang ada disekitarnya.

Tanggung jawab seorang pendidik yaitu mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didiknya  baik potensi psikomotor, kognitif maupun  afektif. kedua orang tua menjadi Penanggung jawab utama pendidikan anak ketika dia di luar pendidikan formal/sekolah, maka guru atau pendidik merupakan penaggung jawab utama pendidikan anak melalui proses pendidikan formal anak yang berlangsung di sekolah, karena tanggung jawab merupakan konsekuensi logis dari sebuah amanat yang dipikulkan di atas pundak para guru dan pendidikan di lingkungan sekolahnya.

  1. Penutup

Demikian makalah ini saya buat, semoga apa bisa bermanfaat bagi diri saya sendiri dan bagi siapa saja yang membacanya. Mengetahui bahwa apa yang ada dalam makalah ini hanyalah sebagian kecil dari Ilmu pengetahuan yang ada, maka kritik dan saran dari para pembaca yang budiman sangatlah saya harapkan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Guru Dan Anak Didik  Dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Juwariyah. 2012. Hadis Tarbawi. Yogyakarta: Teras.

Nizar, Samsul. 2011. Hadis Tarbawi Membangun Kerangka Pendidikan Ideal Perspektif Rasulullah. Jakarta: Kalam Mulia.

Ramayulis. 2005. Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Kalam Mulia.

Rosyadi, Khoiron. 2004. Pendidikan Profetik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suwito. 2005. Sejarah Sosial Pendidikan Islam. Jakarta: Prenada Media.

Tafsir, Ahmad. 1994. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

 

 


[1] Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2004), hlm. 49.

[2] Samsul Nizar, Hadis Tarbawi Membangun Kerangka Pendidikan Ideal Perspektif Rasulullah, (Jakarta: Kalam Mulia, 2011), hlm.105

[3] Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: PT Rineka Cipta), hlm.34-36.

[4] Abu Tauhied, Seratus Hadits, (Purworejo: Imam Puro, 1978), hlm.5.

[5] Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: PT. Rineka Group, 2000), hlm. 34.

[6] Juwariyah, Hadis Tarbawi, (Yogyakarta: Teras, 2010), hlm.100-104

 

Makalah 2

 

MAKALAH

PERKEMBANGAN AGAMA PADA ORANG DEWASA

Diajukan Guna Melengkapi Tugas

Mata kuliah : Psikologi Agama

Dosen Pengampuh: Samroni

     Di Susun Oleh:

 

Ahmad Saihul Rizal           ( 11010160 )

Semester : VI ( Enam )

 

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM WALI SEMBILAN SEMARANG

2013

 

 

 

PERKEMBANGAN AGAMA ORANG PADA DEWASA

BAB I PENDAHULUAN

 

            Psikologi agama terdiri dari dua paduan kata, yakni psikologi dan agama. Kedua kata ini mempunyai makna yang berbeda. Psikologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang normal, dewasa dan beradab. (Jalaluddin, 1997: 77). Sedangkan agama memiliki sangkut paut dengan kehidupan batin manusia. Menurut Harun Nasution, agama berasal dari kata Al Din yang berarti undang-undang atau hukum, religi (latin) atau relegere berarti mengumpulkan dan membaca. Kemudian religare berarti mengikat. Dan kata agama terdiri dari “a”; tidak, “gama”; pergi yang berarti tetap di tempat atau diwarisi turun menurun (Jalaluddin, 2004: 12).

Dari definisi tersebut, psikologi agama meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari berapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku, serta keadaaan hidup pada umumnya, selain itu juga mempelajari pertumbuhan dan perkembangan jiwa agama pada seseorang, serta faktor-faktor yang mempengaruhi keyakinan tersebut (Zakiyah Darajat dikutip oleh Jalaluddin, 2004: 15).

Dengan melihat pengertian psikologi dan agama dapatlah diambil pengertian bahwa psikologi agama adalah cabang dari psikologi yang meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari seberapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku sehari-hari serta keadaan hidup pada umumnya. Untuk itu penulis akan mencoba memaparkan tentang, perkembangan jiwa keagamaan orang dewasa serta faktor-faktor yang. mempengaruhi perkembangan keagamaan tersebut.

BAB II RUMUSAN MASALAH

  1. Bagaiman perkembangan beragama pada orang dewasa?
  2. Apa hambatan-hambatan dalam perkembangan serta kematangan beragama?

 

 

BAB III PEMBAHASAN

  1. 1.      Perkembangan Beragama Pada Orang Dewasa

 

Sebagai akhir dari masa remaja adalah masa adolesen, walaupun ada juga yang mermsukkan masa adolesen ini kepada masa dewasa namun demikian dapat disebut bahwa masa adolesen adalah menginjak dewasa yang mereka mempunyai sikap pada umumnya:

  1. Dapat menentukan pribadinya.
    b.  Dapat rnenggariskan jalan hidupnya.
    c.  Bertanggung jawab.
    d.  Menghimpun norma-norma sendiri.

Elizabeth B. Hurlock membagi masa dewasa menjadi tiga bagian, yaitu :

  1. Masa dewasa awal (masa dewasa dini/young adult)

Masa dewasa awal adalah masa pencaharian kemantapan dan masa, reproduktif yaitu suatu masa yang penuh dengan masalah dan ketegangan, emosional, priode isolasi sosial, priode komitmen dan masa ketergantungan, perubahan nilai-nilai, kreativitas dan penyesuaian diri pada pola hidup yang baru. Kisaran umurnya antara 21 tahun sampai 40 tahun.

  1. Masa dewasa madya (middle adulthood)

Masa dewasa madya ini berlangsung dari umur empat puluh sampai enam puluh tahun. Ciri-ciri yang menyangkut pribadi dan sosial antara lain; Masa dewasa madya merupakan masa transisi, dimana pria dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan prilaku masa dewasanya dan memasuki suatu priode dalam kehidupan dengan ciri-ciri jasmani dan prilaku yang baru. Perhatian terhadap agama lebih besar dibandingkan dengan masa sebelumnya, dan kadang-kadang minat dan perhatiannya terhadap agama ini dilandasi kebutuhan pribadi dan sosial.

  1. Masa usia lanjut (masa tua/older adult)

Usia lanjut adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang. Masa ini dimulai dari umur enam puluh tahun sampai mati, yang ditandai dengan adanya perubahan yang bersifat fisik dan psikologis yang semakin menurun.

Tingkah laku keagamaan orang dewasa memiliki perspektif yang luas didasarkan atas nilai-nilai yang dipilihnya. Selain itu tinghkah laku itu umumnya juga dilandasi oleh pendalaman pengertian dan keluasan pemahaman tentang ajaran agama yang dianutnya. Beragama bagi orang dewasa sudah merupakan bagian dari komitmen hidupnya dan bukan sekedar ikut-ikutan.

Menurut Jalaluddin, gambaran dan cerminan tingkah laku keagamaan orang dewasa dapat pula dilihat dari sikap keagamaanya yang memiliki ciri-ciri antara lain:

  1. Menerima kebenaran, agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang, bukan secara ikut-ikutan.
  2. Bersifat cenderung realis, sehingga norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkah laku.
  3. Bersikap positif thingking terhadap ajaran dan norma-norma agama dan berusaha mempelajari dan pehaman agama.
  4. Tingkat ketaatan agama, berdasarkan atas pertimbangan dan tanggungjawab diri sehingga sikap keberagamaan merupakan realisasi diri dari sikap hidup.
  5. Bersikap yang lebih terbuka dan wawasan yang lebih luas.
  6. Bersikap lebih kritis terhadap materi ajaran agama sehingga kemantapan beragama selain didasarkan atas pertimbangan pikiran juga didasarkan atas pertimbangan hati nurani.
  7. Sikap keberagamaan cenderung mengarah kepada tipe-tipe kepribadian masing-masing, sehingga terikat adanya pengaruh kepribadian dalam menerima, memahami, serta melaksanakan ajaran agama yang diyakininya.
  8. Terlihat hubungan antara sikap keberagamaan dengan kehidupan sosial, sehingga perhatian terhadap kepentigan organisasi sosial keagamaan sudah berkembang.
  1. 2.      Hambatan-Hambatan dalam Perkembangan serta Kematangan Beragama

 

Kematangan bergama akan terkait erat dengan kematangan usia manusia. Perkembangan kegamaan seseorang untuk sampai pada tingkat kematangan beragama dibutuhkan proses yang panjang. Proses tersebut, boleh jadi karena melalui proses konversi agama pada diri seseorang atau karena berbarengan dengan kematangan pribadinya. Sebagai hasil dari konversi, seringkali seseorang menemukan dirinya mempunyai pemahaman yang baik akan kemantapan keagamaannya hingga ia dewasa atau matang dalam beragama¬. Demikian halnya dengan perkembangan kepribadian seseorang, apabila telah sampai pada suatu tingkat kedewasaan, maka akan ditandai dengan kematangan jasmani dan rohani. Pada saat inilah seseorang sudah memiliki keyakinan dan pendirian yang tetap dan kuat terhadap pandangan hidup atau agama yang harus dipeganginya.

Kematangan atau kecenderungan seseorang dalam beragama biasanya ditunjukkan dengan kesadaran dan keyakinan yang teguh karena manganggap benar akan agama yang dianutnya dan ia memerlukan agama dalam hidupnya. Dalam rangka menuju kematangan beragama terdapat beberapa hambatan. Dan pada dasarnya terdapat dua faktor yang menyebabkan adanya hambatan tersebut, di antaranya adalah:

  1. Faktor diri sendiri

Faktor dari dalam diri sendiri terbagi menjadi dua yang menonjol diantaranya kepasitas diri dan pengalaman.

1) Kapasitas diri ini berupa kemampuan ilmiah (rasio) dalam menerima ajaran-ajaran itu terlihat perbedaan antara seseorang yang berkemampuan dan kurang berkemampuan. Sejarah menunjukkan bahwa makin banyak pengetahuan diperoleh, makin sedikit kepercayaan agama mengendalikan kehidupan.
2) Sedangkan faktor pengalaman, semakin luas pengalaman seseorang dalam bidang keagamaan, maka akan semakin mantap dan stabil dalam mengerjakan aktifitas keagamaan. Namun bagi mereka yang mempunyai pengalaman sedikit dan sempit, ia akan mengalami berbagai macam kesulitan dan akan selalu dihadapkan pada hambatan-hambatan untuk dapat mengerjakan ajaran agama secara mantap dan stabil.

  1. Faktor luar (lingkungan)

Faktor luar yaitu beberapa kondisi dan situasi lingkungan yang tidak banyak memberikan kesempatan untuk berkembang, malah justru menganggap tidak perlu adanya perkembangan dan apa yang telah ada. Faktor tersebut antara lain tradisi agama atau pendidikan yang diterima. Hal ini sebagai landasan membuat kebiasaan baru yang lebih stabil dan bisa dipertanggungjawabkan serta memiliki kedewasaan dalam beragama. Berkaitan dengan sikap keberagamaan, William Starbuck, sebagaimana dipaparkan kembali oleh William James, mangemukakan dua buah faktor yang mempengaruhi sikap keagamaan seseorang, yaitu:

a)      Faktor interen, tediri dari;

  • • Temperament; tingkah laku yang didasarkan pada temperamen tertentu memegang peranan penting dalam sikap beragama seseorang.

• Gangguan jiwa; orang yang menderita gangguan jiwa menunjukkan kelainan dalam sikap dan tingkah lakunya.
• Konflik dan keraguan; konflik dan keraguan ini dapat mempengaruhi sikap seseorang terhadap agama, seperti taat, fanatik, agnotis, maupun ateis.
• Jauh dari tuhan; orang yang hidupyna jauh dari Tuhan akan merasa dirinya lemah dan kehilangan pegangan hidup, terutama saat manghadapi musibah.

b)      Faktor ekstern yang mempengaruhi sikap keagamaan secara mendadak adalah:

  • • Musibah; sering kali musibah yang sangat serius dapat mengguncang seseorang,dan kegoncangan tersebut seringkali memunculkan kesadaran, khususnya kesadaran keberagamaan.

• Kejahatan; mereka yang hidup dalam lembah hitam umumnya mengalami guncangan batin dan rasa berdosa. Seeing pula perasaan yang fitrah menghantui dirinya, yang kemudian membuka kesadarannya untuk bertobat, yang pada akhirnya akan menjadi penganut agama yang taat dan fanatik.

BAB IV KESIMPULAN DAN PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

 

Manusia memiliki bermacam ragam kebutuhan batin maupun lahir akan tetapi, kebutuhan manusia terbatas karena kebutuhan tersebut juga dibutuhkan oleh manusia lainnya. Karena manusia selalu membutuhkan pegangan hidup yang disebut agama karena manusia merasa bahwa dalam jiwanya ada suatu perasaan yang mengakui adanya Yang Maha Kuasa tempat mereka berlindung, dan memohon pertolongan. Sehingga keseimbagan manusia dilandasi kepercayan beragama. Sikap orang dewasa dalam beragama sangat menonjol jika kebutuaan akan beragama tertanam dalam dirinya.

Kesetabilan hidup seseorang dalam beragama dan tingkah laku keagamaan seseorang, bukanlah kesetabilan yang statis. Adanya perubahan itu terjadi karena proses pertimbangan pikiran, pengetahuan yang dimiliki dan mungkin karena kondisi yang ada. Tingkah laku keagamaan orang dewasa memiliki persepektif yang luas didasarkan atas nilai-nilai yang dipilihnya. Beragama bagi orang dewasa sudah merupakan bagian dari komitmen hidupnya dan bukan sekedar ikut-ikutan. Namun, masih banyak lagi yang menjadi kendala kesempurnaan orang dewasa dalam beragama. Kedewasaan seseorang dalam beragama biasanya ditunjukkan dengan kesadaran dan keyakinan yang teguh karena menganggap benar akan agama yang dianutnya dan ia memerlukan agama dalam hidupnya

  1. B.     PENUTUP

Demikian makalah ini saya tulis. Semoga makalah yang saya tulis ini bisa bermanfaat bagi diri saya sendiri dan bagi siapa saja yang membacanya. Kritik dan saran dari para pembaca yang budiman sangatlah kami harapkan.

.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ahmad Sidrotul Muntaha, http://www.perkembangan-agama-pada-masa-orang-dewasa.co.id

Abdul Katar Al-Ghazali, perkernbangan-Jiwa-beragarna-pada-orang.htm1, www.google.

Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, Cet. Kedua, 1997.

Sururin, I1mu Jiwa Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004.

Makalah 3

MAKALAH

KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

( KTSP )

 

Diajukan untuk memenuhi tugas

Mata Kuliah              : Pengembangan Kurikulum PAI

Dosen Pengampu      : Drs. H. Muslam, M.Ag., M.Pd.

Disusun oleh:

Ahmad Saihul Rizal ( 11010160 )

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM WALI SEMBILAN (SETIA WS)

S E M A R A N G

2013

 

 

KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

( KTSP )

 

BAB I PENDAHULUAN

Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, dan direncanakan pada tahun 2004. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945, perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya.

BAB II RUMUSAN MASALAH

 

  1. Bagaimanakah pengetahuan dasar KTSP ?
  2. Bagaimanakah Penyusunan Silabi dalam KTSP ?
  3. Bagaimanakah Penyusunan RPP dalam KTSP ?
  4. Bagaimanakah Penilaian dalam KTSP ?

BAB III PEMBAHASAN

  1. A.    Pengetahuan Dasar KTSP
  1. 1.      Pengertian KTSP

KTSP merupakan singkatan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, yang dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi dan karakteristik sekolah/ daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan karakteristik peserta didik. Sekolah dan komite sekolah mengembangkan kurikumum tingkat satuan pendidikan dan silabus berdasarkan kerangka dasar kurukulum dan standar kompetensi lulusan, di bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertugas di bidang pendidikan.

KTSP merupakan upaya untuk menempurnakan kuriklum agar lebih familiar dengan guru, karena mereka banyak dilibatkan diarapkan memiliki tanggungjawab yang memadai. Penyempurnaan kurilulum yang berkelanjutan merupakan keharusan agar sistam pendidikan nasional selalu relevan dan kompetitif. Hal itu juga sejalan dengan Undang-Undang Nomer 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 35 dan 36 yang menekankan perlunya peningatan standar nasional pendidikan sebagai acuan kurikulum secara berencana dan berkala dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional.[1]

  1. 2.      Konsep Dasar KTSP

Dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP Pasal 1, ayat 15) dikemukakan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Penyusunan KTSP dilakukan oleh satuan pendidikan dengan memperhatikan dan berdasarkan standar kompetensi serta kompetensi dasar yang dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP).

KTSP disusun dan dikembangkan berdasarkan Undang-Undang Nomer 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36 ayat 1), dan 2) sebagai berikut :

  1. Pengembangan kurikulum mengacu pada Standar Nasional Pendidikan untuk  mewujudkan Tujuan Pendidikan Nasional.
  1. Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik.

KTSP merupakan strategi pengembangan kurikulum untuk mewujudkan sekolah yang efektif, produktif dan berprestasi. KTSP merupakan paradigm baru pengembangan kurikulum, yang memberikan otonomi luas pada setiap satuan pendidikan, dan pelibatan masyarakat dalam rangka mengefektifkan potensi belajar mengajar di sekolah. Otonomi diberikan agar setiap satuan pendidikan dan sekolah memiliki keleluasaan dalam mengelola sumber daya, sumber dana, sumber belajar dan mengalolasikannya sesuai prioritas kebutuhan, serta lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat.

Dalam KTSP pengembangan kurikulum dilakukan oleh guru, kepala sekolah, serta komite sekolah dewan pendidikan. Badan ini merupakan lembaga yang ditetapkan berdasarkan musyawarah dari pejabat daerah setempat, komisi pendidikan pada dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD), pejabat pendidikan daereah, kepala sekolah, tenaga kependidikan, perwakilan orangtua peserta didik dan tokoh masyarakat. Lembaga inilah yang menetapkan segala kebijakan sekolah berdasarkan ketentuan-ketentuan tentang pendidikan yan berlaku. Selanjutnya komite sekolah perlu merumuskan dan menetapkan visi, misi dan tujuan sekolah dengan berbagai implikasinya terhadap program kegiatan operasional untuk mencapai tujuan sekolah.

  1. Tujuan KTSP

 

Secara umum tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk mendirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberikan kewenangan (otonomi) kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah tnuk melakukan  pengambilan keputusan secara partisipatif dalam pengembangan kurikulum.

Secara khusus tujuan diterapkanya KTSP adalah untuk :

  1. Menignkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia.
  2. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama.
  3. Meningkatkan kompetensi yang sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai.

Memahami tujuan di atas, KTSP dapat dipandang sebagai suatu pola pendekatan baru dalam pengembangan kurikulum dalam konteks otonomi daerah yang sedang digulirkan dewasa ini. Oleh karena itu, KTSP perlu dterapkan oleh setiap satuan pendidikan, terutama berkaitan dengan tujuan hal sebagai berikut :

  1. Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelamahan, peluang, dan ancaman bagi dirinya sehingga dia dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan lembaganya
  2. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya, khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik.
  3. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan sekolah karena pihak sekolahlah yang paling tahu apa yagn terbaik bagi sekolahnya
  4. Keterlibatan semua warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum menciptakan transparasi dan demokrasi yang sehat, serta lebih efisien dan efektif bilamana dikontrol oleh masyarakat setempat
  5. Sekolah dapat bertanggungjawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah, orang tua peserta didik, dan masyarakat pada umumnya, sehingga dia akan berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan dan mencapai sasaran KTSP
  6. Sekolah dapat melakukan persaingan yagn sehat dengan sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya inovatif dengan dukungan orang tua peserta didik, masyarakat dan pemerintah daerah setempat.
  7. Sekolah dapat secara cepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkungan yang berubah dengan cepat, serta mengakomodasinya dalam KTSP.[2]
  1. Landasan Pengembangan KTSP

 

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dilandasi oleh undang-undang dan peraturan pemerintah sebagai berikut :

  1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentnag Sisdiknas

Dalam Undang-Undang Sisdiknas dikemukakan bahwa Satandar Nasional Pendidikan (SNP) teridiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. SNP digunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan dan pembiayaan. Pengembangan standar nasional pendidikan serta pemantauan dan pelaporan pencapaiannya secara nasional dilaksanakan oleh suatu badan standarisasi, penjaminan dan pengendalian mutu pendidikan.

  1. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005

Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 adalah peraturan tentang standar Nasional Pendidikan (SNP). SNP merupakan criteria minimal tentang system pendidikan di seluruh wilayah hokum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam peraturan tersebut dikemukakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dalam peraturan tersebut dikemukakan bahwa KTSP adalah kurikulum operasional yang dikembangkan berdasarkan standar kompetensi lulusan (SKL) dan standar isi.

  1. Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 22 Tahun 2006

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 mengatur tentang standar isi untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah yang selanjutnya disebut Standar Isi, mencakup lingkup materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.

  1. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional no. 23 Tahun 2006 mengatur Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik. Standar Kopetensi Lulusan meliputi standar kompetensi lulusan minimal satuan pendidikan dasar dan menengah, standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran dan standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran, yang akan bermuara pada kompetensi dasar.

  1. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 24 Tahun 2006 mengatur tentang pelaksanaan SKL dan Standar isi. Dalam peraturan ini dikemukakan bahwa satuan pendidikan dasar dan menengah mengembangkan dan menetepkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah sesuai kebutuhan satuan pendidikan yang bersangkutan, berdasarkan pada :

  1.  Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentnag Sistem Pendidikan Nasional Pasal 36 sampai dengan Pasal 38.
  2.  Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan pasal 5 sampai dengan pasal 18 dan pasal 25 sampai pasal 27.
  3. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 23 Tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. [3]
  1. B.     Penyusunan Silabi

 

  1. 1.      Pengertian Silabus

 

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi , kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.

  1. 2.      Prinsip Pengembangan Silabus

 

Ada beberapa prinsip pengembangan silabus. Prinsip – prinsip tersebut adalah :

  1. Ilmiah

Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.

  1. Relevan

Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik.

  1. Sistematis

Komponen-komponen silabus  saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.

  1.  Konsisten

Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok/pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian.

  1. Memadai

Cakupan indikator, materi pokok/pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.

  1. Aktual dan Kontekstual

Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.

  1. Fleksibel

Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.

  1. Menyeluruh

Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor).[4]

  1. Langkah-langkah Pengembangan Silabus

 

  1. a.      Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran sebagaimana tercantum pada Standar Isi, dengan  memperhatikan hal-hal berikut:

a.    urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di SI.

b.    keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran;

c.     keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar antarmata pelajaran.

  1. b.        Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran

Mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran yang menunjang pencapaian kompetensi dasar dengan mempertimbangkan:

a.     potensi peserta didik;

b.      relevansi dengan karakteristik daerah,

c.      tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik;

d.      kebermanfaatan bagi peserta didik;

e.      struktur keilmuan;

f.      aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;

g.      relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan

h.      alokasi waktu.

  1. c.       Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan,  dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut :

  1. Kegiatan pembelajaran disusun untuk memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru, agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara profesional.
  2. Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar.
  3. Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi pembelajaran.
  4. Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar siswa, yaitu kegiatan siswa dan materi.
  1. d.      Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi

 

Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.

  1. e.       Penentuan Jenis Penilaian

Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.

 

  1. f.       Menentukan Alokasi Waktu

Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar.  Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam.

  1. g.      Menentukan Sumber Belajar

Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.

Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.[5]

 

 

  1. C.    Penyusunan RPP

 

  1. 1.      Hakekat Perencanaan

 

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan manajemen pembelajaran untuk mencapai satu atau lebih kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan dijabarkan dalam silabus.

Rencana pelaksanaan pembelajaran akan bermuara pada pelaksanaan pembelajaran, sedikitnya mencakup pada tiga kegiatan yaitu identifikasi kebutuhan, perumusan kompetensi dasar, dan penyusunan program pembelajaran.

  1. 2.      Fungsi RPP

 

Ada dua fungsi RPP, yaitu :

  1. a.      Fungsi perencanaan

 

Fungsi perencanaan RPP adalah bahwa rencana pelaksanaan pembelajaran hendaknya dapat mendorong guru lebih siap dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan perencanaan yang matang.

  1. b.      Fungsi pelaksanaan

 

Rencana pelaksanaan pembelajaran berfungsi untuk mengefektifkan proses pembelajaran sesuai dengan apa yang direncanakan.

  1. 3.      Prinsip pengembangan RPP

 

Terdapat beberapa prinsip dalam pengembangan RPP, prinsip – prinsip tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Kompetensi yang dirumuskan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran harus jelas.
  2. Rencana pelaksanaan pembelajaran harus sederhana dan fleksibel.
  3. Kegiatan yang disusun dan dikembangkan dalam RPP harus menunjang, dan sesuai dengan KD yang akan diwujudkan.
  4. RPP yang dikembangkan harus utuh dan menyeluruh, serta jelas pencapaianya.
  5. Harus ada koordinasi antar komponen pelaksana program di sekolah .
  1. 4.      Cara Pengembangan RPP

 

Cara pengembangan RPP dalam garis besarnya dapat mengikuti langkah- langkah sebagai berikut .

  1. Mengisi kolom identitas.
  2. Menentukan alokasi waktu.
  3. Menentukan standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta indicator yang akan digunakan yang terdapat pada silabus yang telah disusun.
  4. Merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan SK, KD serta indikator.
  5. Mengidentifikasi materi standar berdasarkan materi pokok / pembelajaran yang terdapat dalam silabus.
  6. Menentukan metode pembelajaran.
  7. Merumuskan langkah- langkah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan awal, inti dan akhir.
  8. Menentukan sumber belajar.
  9. Menyusun criteria penilaian, lembar pengamatan , contoh soal, dan teknik penskoran.[6]
  1. D.    Penilaian Pada KTSP

 

Penilaian hasil belajar dalam KTSP dapat dilakukan dengan penilaian kelas, tes kemampuan dasar, penilaian akhir satuan pendidikan dan sertifikasi, benchmarking, dan penilaian program.

  1. 1.      Penilaian Kelas

 

Penilaian kelas dilakukan dengan ulangan harian, ulangan umum dan ujian akhir.

  1. 2.      Tes Kemampuan Dasar

 

Tes kemampuan dasar dilakukan untuk mengetahui kemampuan membaca, menulis, dan berhitung yang diperlukan dalam rangka memperbaiki program pembelajaran ( program remedial ).

  1. 3.      Penilaian Akhir Satuan Pendidikan dan Sertifikasi

 

Pada setiap akhir semester dan tahun pelajaran diselenggarakan kegiatan penilaian guna mendapatkan gambaran secara utuh dan menyeluruh mengenai ketuntasan belajar peserta didik dalam satuan waktu tertentu. Untuk keperluan sertifikasi, kinerja dan hasil belajar yang dicantumkan dalam Surat Tanda Tamat Belajar tidak semata- mata didasarkan atas hasil penilaian pada akhir jenjang sekolah.

  1. 4.      Benchmarking

 

Benchmarking merupakan suatu standar untuk mengukur kinerja yang sedang berjalan, proses dan hasil untuk mencapai suatu keunggulan dapat ditentukan di tingkat sekolah, daerah atau nasional.

  1. 5.      Penilaian Program

 

Penilaian program dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional dan Dinas Pendidikan secara kontinu dan berkesinambungan. Penilaian program dilakukan untuk mengetahui kesesuaian KTSP dengan dasar, fungsi, dan tujuan pendidikan nasional, serta kesesuaianya dengan tuntutan perkembangan masyarakat, kemajuan jaman.[7]

 BAB IV KESIMPULAN DAN PENUTUP

 

  1. A.    Kesimpulan

 

KTSP merupakan kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan dengan memperhatikan dan berdasarkan standar kompetensi dan kompetansi dasar yang dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Pengambangan KTSP deserahkan kepada para pelaksana pendidikan untuk mengembangkan berbagai kompetensi pendidikan (pengetahuan, keterampilan dan sikap) pada setiap satuan pendidikan di sekolah dan daerah masing-masing.

  1. B.     Penutup

 

Semoga dengan makalah ini pembaca khususnya pendidik atau calon pendidik bisa memahami secara dalam dan luas tentang kurikulum KTSP ini agar ketika pelaksanaan di sekolah pembelajaran bisa berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan karena kurangnya pengetahuan masalah KTSP.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Mulyasa, E. 2006.  Kurikulum Yang Disempurnakan . Bandung : ROSDA.

Mulyasa, E. 2006.  Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan . Bandung : ROSDA.

Kurniasih Imas. 2012. Bukan Guru Biasa. Arta pustaka.

Makalah 4

GURU PROFESIONAL DAN TEGNOLOGI PENDIDIKAN

      I.            PENDAHULUAN

Dilihat dari sisi aktualisasinya, pendidikan merupakan proses interaksi antara guru (pendidik) dengan peserta didik (siswa) untuk mencapai tujuan- tujuan pendidikan yang ditentukan. Pendidik, peserta didik dan tujuan pendidikan merupakan komponen utama pendidikan. Kegiatannya membentuk suatu triangle, yang jika hilang salah satunya, maka hilang pulalah hakikat pendidikan. Namun demikian dalam situasi tertentu tugas guru dapat diwakilkan atau dibantu oleh unsur lain seperti media tegnologi, tetapi tidak dapat digantikan. Mendidik adalah pekerjaan profesional. Oleh karena itu guru sebagai pelaku utama pendidikan merupakan pendidikan profesional. [1]

Perana guru sebagai pendidik profesional akhir- akhir ini mulai dipertanyakan eksistensinya secara fungsional. Hal ini antara lain disebabkan oleh munculnya serangkaian fenomena para lulusan pendidikan secara moral cenderung merosot dan secara intelektual akademik juga kurang siap untuk memasuki lapangan kerja. Jika fenomena tersebut benar adanya, maka baik langsung maupun tidak langsung akan terkait dengan peranan guru sebagai pendidik profesional.[2]

Dari para ahli, kita sering mendengar pernyataan bahwa ilmu bukan hanya untuk ilmu. Pernyataan tersebut dapat di artikan bahwa pengembangan suatu ilmu pengetahuan tidak hanya di tujukan kepada perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri, melainkan juga diharapkan daoat memberikan sumbangan kepada bidang- bidang kehidupan atau ilmu yang lainnya. Sumbangan yang berupa penggunaan atau penerapan suatu bidang ilmu pengetahuan terhadap bidang- bidang lain disebut teknologi.[3]

Sejalan dengan permasalahan tersebut, makalah ini akan mencoba menguraikan tentang guru profesional dan teknologi pendidikan? Mengapa guru profesional dan teknologi pendidikan itu diperlukan dalam menunjang keberhasilan pendidikan dan mempunyai hubungan yang sangat erat? Dan bagaimanakah upaya untuk mewujudkan keberhasilan tersebut?

    II.            RUMUSAN MASALAH

  1. Bagaimana guru profesional itu?
  2. Bagaimana ilmu Teknologi itu?

 III.            PEMBAHASAN

  1. 1.             Guru Profesional

Para ahli pendidikan, pada umumnya memasukkan guru sebagai pekerja profesional, yaitu pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak dapat memperoleh yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak dapat memperoleh pekerjaan lain.[4]

Sebagai pendidik profesional, guru bukan saja dituntut melaksanakan tugasnya secara profesional, tetapi juga harus memiliki pengetahuan dan kemampuan profesional. Dalam diskusi pengetahuan model pendidikan profesional tenaga kependidikan, yang diselenggarakan oleh PPS IKIP Bandung tahun 1990, dirumuskan 1o ciri suatu profesi yaitu:

1)             Memiliki fungsi dan signifikasi sosial

2)             Memiliki keahlian/ keterampilan tertentu.

3)             Keahlian/ keterampilan diperoleh dengan menggunakan teori dan metode ilmiah.

4)             Didasarkan atas disiplinilmu yang jelas.

5)             Diperoleh dengan pendidikan dalam masa tertentu yang cukup lama.

6)             Aplikasi dan sosialisasi nilai- nilai profesional.

7)             Memiliki kode etik.

8)             Kebebasan untuk memberikan judgment dalam memecahkan masalah dalam lingkunga kerjaanya.

9)             Memiliki tanggung jawab profesional dan otonomi, dan

10)         Ada  pengakuan dari masyarakat dan imbalan atas layanan profesinya.[5]

Jika ciri- ciri profesionalisme tersebut di atas ditujukan untuk profesi pada umumnya, maka khusus untuk profesi seorang guru dalam garis besarnya ada tiga.[6]

  1. Seorang guru yang profesional harus menguasai bidang ilmu pengetahuan yang akan diajarkannya dengan baik. Ia benar- benar seorang ahli dalam bidang ilmu yang diajarkannya. Selanjutnya karena dalam bidang pengetahuan apapun selalu mengalami perkembangan, maka seorang guru juga harus terus menerus meningkatkan dan mengembangkan ilmu yang diajarkannya, sehingga tidak ketinggalan zaman, untuk dapat melakukanya itu, seorang guru juga harus terus- menerus melakukan penelitian dengan menggunakan berbagai macam metode.
  2. Seorang guru yang profesioanal harus memiliki kemampuan menyampaikan atau mengajarkan ilmu yang dimilikinya (transfer of knowledge) kepada murid- muridnya secara efektif dan efisien. Untuk itu, seorang guru harus memiliki ilmu keperguruan.
  3. Seorang guru profesional harus berpegang teguh kepada kode etik profesional sebagaimana tersebut diatas. Kode etik disini lebih di khususkan  lagi tekanannya pada perlunya memiliki akhlak yang mulia. Dengan akhlak yang demikian itu, maka seorang guru akan dijadikan penutan, contoh dan teladan. Dengan cara demikian ilmu yang diajarkan atau nasihat yang diberikannya kepada para siswa akan didengarkan dan dilaksankannya dengan baik.

Guru profesional merupakan orang yang telah menempuh program pendidikan guru dan memiliki tingkat master serta telah mendapatkan ijazah negara dan telah berpengalaman dalam mengajar pada kelas- kelas besar. Guru- guru ini diharapkan dan dikualifikasikan untuk mengajar dikals yang besar dan bertindak sebagai pemimpin bagi para anggota staf lainnya dalam membantu persiapan akademis sesuai dengan minatnya.

Guru profesional bertugas antara lain:

1)             Bertinak sebagai model bagi para anggota lainnya.

2)             Merangsang pemikiran dan tindakan.

3)             Memimpin nasihat kepada executive teacher sesuai dengan kebutuhan tim.

4)             Membina/ memelihara literatur profesional dalam daerah.

5)             Bertindak atau memberikan pelayanan sebagai manusia sumber dalam daerah pelajaran tertentu dengan fererensi pada in-service, training, dan pengembangan kurikulum.

6)             Memimpin perencanaan dalam mata pelajaran atau daerah pelajaran tertentu.

7)             Mengembangkan file sumber kurikulum dalam daerah pelajaran tertentu dan mengajar kelas- kelas yang paling besar.

8)             Memelihara hubungan dengan orang tua murid dan memberikan komentar atau laporan.

9)             Bertindak sebagai pengajar dalam timnya. [7]

  1. 2.             Ilmu Teknologi
    1. a.             Perkembangan Teknologi

Teknologi pendidikan mempunyai persamaan dengan  pendidikan klasik tentang peranan pendidikan dalam menyampaikan informasi. Keduanya juga mempunyai perbedaan, sebab yang diutamakan dalam teknologi pendidikan adalah pembentukan dan penguasaan kompetensi bukan pengawetan dan pemeliharaan budaya lama. Mereka lebih beriorentasi ke masa sekarang dan yang akan datang, tidak seperti pendidikan klasik yang lebih melihat ke masa lalu.[8]

Perkembangan teknologi pendidikan dipengaruhi dan sangat diwarnai oleh perkembangan ilmu dan teknologi. Hal itu memang sangat masuk akal, sebab teknologi pendidikan bertolak dari dan merupakan penerapan prinsip- prinsip ilmu dan teknologi dalam pendidikan. Teknologi telah masuk ke semua segi kehidupan termasuk dalam pendidikan.[9]

Sebenarnya sejak dahulu, ilmu teknologi sudah ada atau manusia sudah menggunakan teknologi. Kalau manusia zaman dahulu memecahkan kemiri dengan batu atau memetik buah dengan galah, sesungguhnya mereka sudah menggunakan teknologi yaitu teknologi sederhana. Mengapa manusia menggunakan teknologi, karena manusia berakal. Dengan akalnya itu ia ingin hidup lebih baik, lebih mudah, lebih aman, lebih sejahtera.[10]

Perkembangan teknologi lain yang sangat penting dan banyak membawa perkembangan pada teknologi lain adalah teknologi industri. Mulanya teknologi ini berkembang secara individual secara individual dalam lingkungan kecil dan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sendiri, kemudian berkembang menjadi kongsi ditujukan untuk memenuhi lingkungan yang makin luas sampai berskala ekspor. Penemuan- penemuan dibidang ilmu pengetahuan mempercepat pertumbuhan teknologi industri.[11]

Teknologi terakhir yang berkembang begitu cepat pada beberapa dekade terakhir adalah teknologi komunikasi dan informatika. Teknologi ini berkembang sangat pesat berkat temuan- temuan di bidang elektronika. Perkembangan radio dan televisi telah membuka bagian- bagian dunia yang terbelakang menjadi daerah terbuka karena arus informasi. Apa yang terjadi disuatu daerah atau negara, dalam waktu beberapa menit, sudah dapat diketahui oleh orang- orang di bagian dunia lainnya.[12]

Teknologi  media cetak, walaupun jangkauan dan kecepatan sebarannya tidak seluas dan secepat komunikasi massa dan telekomunikasi, mempunyai keunggulan tersendiri. Penemuan alat- alat cetak modern, dengan kemampuan cetak yang sangat cepat, telah menghasilkan barang cetakan, seperti buku, majalah, dan surat kabar, yang bermutu tinggi. Barang- barang cetakan ini bisa didokumentasikan untuk waktu yang lama, kalau bahannya cukup baik, tahan sampai ratusan tahun. Untuk dokumentasi- dokumentasi yang menggunakan tempat terlalu besar, sekarang ada teknologi microfilm dan microfiche untuk mengecilkannya.[13]

  1. b.             Pengaruh Perkembangan ilmu dan Teknologi[14]

Pendidikan, juga mendapat pengaruh yang cukup besar dari ilmu dan teknologi. Pendidikan sangat erat hubungan dengan kehidupan sosial, sebab, pendidikan merupakan salah satu aspek sosial. Pendidikan tidak terbatas pada pendidikan formal saja, melainkan juga pendidikan nonformal, sebab pendidikan meliputi segala usaha sendiri atau usaha keterampilan dan membentuk sikap- sikap tertentu.

Di ungkapkan bahwa kemajuan di bidang komunikasi massa sangat berpengaruh terhadap pendidikan. Sebab media massa juga merupakan juga media pendidikan. Dengan kata lain, melalui media massa dapat berlangsung proses pendidikan. Baik tayangan- tayangan yang berbentuk informasi ataupun tayangan yang bersifat hiburan juga mempunyai nilai- nilai pendidikan. Kami kira tidak ada seorang skenario film, sinetron, atau sandiwara TV, ataupun penulis berita atau cerita yang sengaja menulis suatu tema cerita atau tulisan dengan tujuan merusak masyarakat.

Bagaimanapun media massa mempunyai fungsi pendidikan. Tiap acara TV atau radio, tiap berita atau tulisan dalam surat kabar atau majalah dapat menambah pengetahuan pendengar, penonton, atau pembacanya, memberikan kecakapan atau keterampilan serta membina sikap tertentu. Dalam hal ini media massa mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan belajar dalam kelas, sebab dikelas, belajar berlangsung secara disadari, diperintah dan diuji tetapi melalui media massa belajar terjadi secara tak sadar, tanpa paksaan atau perintah orang lain dan tidak ada tekanan untuk kalangan atau ujian. Mar’at seorang psikolog dari unpad mengemukakan pendapatnya sebagai berikut:

“TV mampu mengubah sikap, pandangan, dan perasaan seseorang. Dan yang penting adalah fungsi TV nya sendiri yang disesuaikan dengan kemampuan masyarakat, sebagai media komunikasi visual dalam meningkatkan pengetahuan, cara berfikir, dan cara menyeleisaikan masalah”

Segi negatif yang lain dari media TV untuk pendidikan anak selain yang telah di ungkapkan terdahulu adalah kecenderungan anak untuk mengadakan peniruan dan identifikasi. Kita mengetahui bahwa anak suka meniru, dan pada masa tertentu terutama pada awal masa pubertas ada masa anak untuk beridentifikasi dengan tokoh- tokoh pujaan tertentu. Mudah kita pahami bahwa yang menjadi idola anak adalah tokoh-tokoh terkenal atau jagoan- jagoan tertentu. Sering terjadi kalau anak sudah memuja seorang tokoh, apa saja yang dilakukan oleh tokoh tersebut selalu baik. Padahal mungkin saja tidak semua tingkah laku tokoh tersebut baik, apalagi idolannya itu adalah tokoh dalam film- film barat yang mungkin tidak sesuai dengan kepribadian bangsa indonesia.

Perkembangan teknologi di bidang industri mempunyai hubungan timbal balik dengan pendidikan. Industri dengan teknologi maju memproduksi berbagai macam alat- alat dan bahan yang secara langsung atau tidak dibutuhkan dalam pendidikan. Kegiatan pendidikan ini membutuhkan dukungan dari penggunaan alat-alat hasil industri seperti komputer, televisi, radio, cassete tape recorder, video tape, buku- buku, gambar- gambar, peta, berbagai bentuk alat peraga, alat- alat permainan, alat tulis menulis, alat- alat hitung dan sebagainnya.

Ada segi mengenai hubungan  antara pendidikan dengan perkembangan teknologi dalam industri. Perkembangan teknologi industri menuntut peningkatan penguasaan pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan sumber daya manusianya. Hal itu berarti membuka pekerjaan baru dan juga menutut keahlian baru yang harus dipersiapkan dalam pendidikan. Untuk menyelenggarakan suatu sekolah kejuruan tertentu dituntut banyak hal. Sekolah kejuruan yang baru menuntut penyediaan guru- guru dalam kejuruan tersebut, menuntut peralatan pendidikan atau latihan yang baru yang mungkin tidak sama dengan peralatan bagi pendidikan atau kejuruan yang telah ada. Sekolah kejuruan yang baru juga mungkin menuntut sitem penilaian baru, dan sebagainya. Dengan perkataan lain perkembangan teknologi dalam industri dapat memberikan tuntunan pembaharuan dalam pendidikan.

Dengan demikian, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan perkembangan pula pada dunia pendidikan. Pengaruh perkembangan ilmu dan teknologi terhadap pendidikan selain yang bersifat tidak langsung seperti yang telah dikemukakan terdahulu, juga yang bersifat tidak langsung. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara langsung maupun tidak langsung menuntut perkembangan pendidikan. Pengaruh langsung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah memberikan isi/materi atau bahan yang akan disampaikan dalam pendidikan. Pengaruh tak langsung adalah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, menyebabkan perkembangan masyarakat, dan perkembangan masyarakat menimbulkan problema- problema baru yang menuntut pemecahan dengan pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan baru yang dikembangkan dalam pendidikan.

 IV.            KESIMPULAN DAN PENUTUP

1)             Kesimpulan

a)             Guru Profesional

Guru profesional merupakan orang yang telah menempuh program pendidikan guru dan memiliki tingkat master serta telah mendapatkan ijazah negara dan telah berpengalaman dalam mengajar pada kelas- kelas besar. Guru- guru ini diharapkan dan dikualifikasikan untuk mengajar dikals yang besar dan bertindak sebagai pemimpin bagi para anggota staf lainnya dalam membantu persiapan akademis sesuai dengan minatnya.

b)            Teknologi Pendidikan

  1. 1.      Perkembangan teknologi

Perkembangan teknologi pendidikan dipengaruhi dan sangat diwarnai oleh perkembangan ilmu dan teknologi. Hal itu memang sangat masuk akal, sebab teknologi pendidikan bertolak dari dan merupakan penerapan prinsip- prinsip ilmu dan teknologi dalam pendidikan. Teknologi telah masuk ke semua segi kehidupan termasuk dalam pendidikan.

Perkembangan teknologi lain yang sangat penting dan banyak membawa perkembangan pada teknologi lain adalah teknologi industri. Mulanya teknologi ini berkembang secara individual secara individual dalam lingkungan kecil dan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sendiri, kemudian berkembang menjadi kongsi ditujukan untuk memenuhi lingkungan yang makin luas sampai berskala ekspor. Penemuan- penemuan dibidang ilmu pengetahuan mempercepat pertumbuhan teknologi industri.

 

  1. 2.      Pengaruh perkembangan ilmu dan teknologi

Disini Pendidikan, juga mendapat pengaruh yang cukup besar dari ilmu dan teknologi. Pendidikan sangat erat hubungan dengan kehidupan sosial, sebab, pendidikan merupakan salah satu aspek sosial. Pendidikan tidak terbatas pada pendidikan formal saja, melainkan juga pendidikan nonformal, sebab pendidikan meliputi segala usaha sendiri atau usaha keterampilan dan membentuk sikap- sikap tertentu.

2)             Penutup

Alkhamdulillah, puji syukur semoga selalu terpanjatkan pada Allah SWT. yang senantiasa memberikan rahmat, taufik, hidayah serta inayah-Nya sehingga telah selesei penulis dalam pembuatan makalah ini.

Namun, sangat penulis sadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, sangat penulis harapkan akan kritik dan saran dari semua pihak guna kesempurnaan penulisan makalah ini.

Tak lupa ucapan terima kasih juga bagi semua pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfa’at bagi kita semua. Amin.

 

DAFTAR PUSTAKA

Nata, Abuddin, Manajement Pendidikan, Jakarta: Prenada Media, 2003.

Hamalik, Oemar, Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2002.

Sukmadinata, Syaodih, Nana, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009.

 


[1] Nana Syaodih Sukmadinata. Perkembangan Kurikulum Teori dan Praktek. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997). Cet 1, hlm. 191.

[2] Abuddin Nata. Manajemen Pendidikan. (Jakarta: Prenada Media, 2003). Cet 1, hlm. 136.

[3] Nana Syaodih Sukmadinata, Op. Cit, hlm. 66.

[4]  Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional (Bandung: remaja Rosdakarya, 1997). Cet. VIII. Hlm.14. Lihat pula Nana Syaodih sukmadinata. Op.Cit. hlm. 191.

[5] Ibid. hlm. 191.

[6] Abuddin Nata. Op. Cit,  hlm. 143.

[7] Oemar Hamalik, Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2002), Cet 1, hlm. 28.

[8] Nana Syaodih Sukmadinata, Op. Cit. Hlm. 11.

[9] Ibid.

[10] Ibid,  hlm. 67.

[11] Ibid,  hlm. 67-68.

[12] Ibidt, hlm. 69.

[13] Ibid, hlm 70.

[14] Ibid, hlm 75-78.

 


[1] Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. ROSDA : Bandung. Hal. 8 – 9.

[2] Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. ROSDA : Bandung. Hal. 19 – 22.

[3] Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. ROSDA : Bandung. Hal. 24.

[4] Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. ROSDA : Bandung. Hal. 190- 191

[5] Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. ROSDA : Bandung. Hal. 203- 206.

[6] Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. ROSDA : Bandung. Hal. 213- 222.

[7] Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. ROSDA : Bandung. Hal. 258.

Makalah 5

MAKALAH

CERAMAH KEPADA ORANG TUA MURID

Diajukan Guna Melengkapi Tugas

Mata kuliah : Bimbingan Konseling

Dosen Pengampuh: Drs. H. Masjudi, M.Pd

     Di Susun Oleh:

 

Ahmad Saihul Rizal           ( 11010160 )

Semester : VI ( Enam )

 

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM WALI SEMBILAN SEMARANG

2013

CERAMAH KEPADA ORANG TUA MURID

BAB I PENDAHULUAN

Pendidikan akan berlangsung dengan baik bilamana ada hubungan yang baik antara sekolah dengan keluarga. Pendidikan di dalam keluarga haruslah searah dengan pendidikan di sekolah. Oleh karena itu sekolah pada waktu- waktu tertentu perlu mengadakan pertemuan dengan orang tua murid. Pertemuan- pertemuan itu sebaiknya diisi ceramah- ceramah pada orang tua murid yang pada dasarnya bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada orang tua murid demi kiebaikan anak- anaknya. Materi apa yang akan diceramahkan dapat bervariasi, tetapi sebagai contoh dapat dikemukakan seperti berikut.[1]

Contoh bahan untuk ceramah kepada orang tua murid, sebagai salah satu aspek dalam bimbingan dan konseling di sekolah.

Pencapaian prestasi atau kesuksesan seseorang bukan hanya tergantung dari faktor kecerdasan/kecakapan intelektual saja, melainkan faktor kecerdasan emosi juga sangat menentukan. Kecerdasan emosi dan kecerdasan intelektual harus berkembang selaras sehingga siswa dapat mencapai prestasi dalam belajarnya.

Ceramah ini bertujuan untuk menjalin kerja sama antar sekolah dan wali murid dalam membimbing dan mendidik anak-anak, menambah wawasan orang tua dan guru untuk mengarahkan anak mengembangkan kecerdasan emosinya.

Dengan memiliki kecerdasan emosi, siswa dapat mengetahui dan menanggapi perasaan mereka sendiri dengan baik dan mampu membaca dan menghadapi perasaan orang lain secara baik juga. Siswa dengan keterampilan emosional yang berkembang baik akan berhasil dalam kehidupan dan memiliki motivasi untuk mencapai prestasi.

Kecerdasan emosi tidak dapat dimiliki secara tiba-tiba, tetapi memerlukan proses pembelajaran dari diri sendiri maupun lingkungannya. Oleh karena itu sekolah dan keluarga memiliki tanggung jawab besar untuk pembentukan kecerdasan emosi anak.

BAB II RUMUSAN MASALAH

  1. Bagaimanakah peranan komunikasi dalam pembentukan sikap di dalam keluarga ?
  2. Bagaimana peranan sikap orang tua dalam pembentukan harga diri anak ?

BAB III PEMBAHASAN

  1. A.    Peranan Komunikasi Dalam Pembentukan Sikap di Dalam Keluarga

Perkawinan merupakan bersatunya seorantg pria dengan seorang wanita sebagai suami istri ( Walgito, 1984 ). Namun demikian pada umumnya masing- masing pihak telah mempunyai pribadi sendiri- sendiri yang telah terbentuk. Karena itu untuk dapat menyatukan diri satu dengan yang lainya perlu ada saling penyesuaian. Hal ini perlu didasari benar- benar oleh masing- masing pihak. Berkaitan dengan hal ter4sebut, peranan komunikasi dalam keluarga merupakan hal yang sangat penting. Antara suami dengan istri perlu berkomunikasi dengan baik untuk dapat mempertemukan satu dengan yang lain, sehingga dengan demikian kesalah pahaman dapat dihindari.[2]

Salah satu ciri penting pendidikan humanistik adalah adanya komunikasi yang efektif antara pendidik dengan siswa. Komunikasi merupakan faktor penting dalam interaksi, karena komunikasi menyebabkan adanya saling pengertian antar orang yang berkomunikasi. Kalau di dalam komunikasi mampu menumbuhkan saling pengertian maka relasi itu akan amat produktif dan efektif.

Menurut Balson (1999:218), komunikasi yang efektif apabila orang yang mengungkapkan keprihatinan dan problem tahu bahwa pendengarnya memahami pesan yang sedang disampaikan. Dalam kasus orang tua yang menilai bahwa anak-anak mereka mempunyai problem khusus tersendiri, orang tua akan sangat terbentu untuk berkomunikasi dengan anak yang sudah diakui dan dipamahi perasaannya.

Komunikasi antara orang tua (suami dan istri) pada dasarnya harus terbuka. Hal tersebut karena suami-istri telah merupakan suatu kesatuan. Komunikasi yang terbuka diharapkan dapat menghindari kesalahpamahan. Dalam batas-batas tertentu sifat keterbukaan dalam komunikasi juga dilaksanakan dengan anak-anak, yaitu apabila anak-anak telah dapat berpikir secara baik, anak telah dapat mempertimbangkan secara baik mengenai hal-hal yang dihadapinya. Dengan demikian akan menimbulkan saling pengertian di antara seluruh anggota keluarga, dan dengan demikian akan terbina dan tercipta tanggung jawab sebagai anggota keluarga.[3]

Selanjutnya dijelaskan oleh Riyanto (2002:34), hal yang sangat penting dalam suatu komunikasi adalah kemampuan mendengarkan, yaitu mendengarkan dengan penuh simpati. Mendengarkan dengan penduh simpati ditandai dengan:

a. Peka akan perasaan yang menyertai pesan yang disampaikan;

b. Mendengarkan dengan penuh perhatian;

c. Tidak menyela pembicaraan atau memberikan komentar ditengah-tengah;

d. Menaruh perhatian pada “dunia” pembicara;

e. Sendiri tidak penting, yang penting adalah pembicara.

Seorang pendengar yang baik akan mendengarkan dengan penuh perhatian. Pendengar yang baik akan mendengarkan orang lain dengan penuh hormat dan penghargaan. Ia mampu menangkap apa yang tidak terungkap dengan kata-kata, tetapi sebenarnya ingin dikatakan oleh si pembicara. Ia juga mampu mengamati dan mencermati bagaimana si pembicara mengungkapkan perasaan yang ditandai dengan berubah-ubahnya nada dan volume suara. Pendengar yang baik adalah pendengar yang aktif dan kreatif.

Berikut ini adalah tahap-tahap pendengar yang aktif:

a. Mendengarkan saja tanpa komentar atau menyela pembicaraan;

b. Mencoba memberikan umpan balik secara tepat;

c. Memcoba memperjelas, menghargai dan menghormati, menegaskan, memberikan tambahan informasi;

d. Menanyakan rencana langkah berikutnya.

Komunikasi yang efektif, sedak-tidaknya meliputi tiga hal berikut:

1) Pengirim pesan atau pembicara

2) Penerima atau pendengar

3) Pesan yang dimengerti atau diterima dengan tepat

Menurut Walgito (2004:205) di samping keterbukaan dalam komunikasi, komunikasi di dalam keluarga sebaiknya merupakan komunikasi dua arah, yaitu saling memberi dan saling menerima di antara anggota keluarga. Dengan komunikasi dua arah akan terdapat umpan balik, sehingga dengan demikian akan tercipta komunikasi hidup, komunikasi yang dinamis,. Dengan komunikasi duah arah, masing-masinng pihak akan aktif, dan masing-masing pihak akan dapat memberikan pendapatnya mengenai masalah yang dikomunikasikan.[4]

Dalam komunikasi akan lebih efektif apabila tercapai saling pemahaman, yaitu pesan yang disampaikan dapat diterima dan dipahami oleh penerima. Secara umum proses komunikasi sekurang-kurangnya mengandung lima unsur yaitu pemberi, pesan, media, penerima, dan umpan balik.

Menurut Suhendi (2001:102), “Dengan adanya komunikasi manusia yang tadinya tidak tahu apa-apa, kemudian belajar memahami nilai yang ada dalam kelompoknya.” Untuk menjadi anggota dapat diterima di lingkungan kelompoknya, seseorang memerlukan suatu kemampuan untuk menilai objektif perilaku sendiri dalam pandangan orang lain. Apabila sudah sampai pada tingkat tersebut, seseorang sudah memiliki apa yang disebut self (diri). Self terbentuk dan berkembang melalui proses sosialisasi dengan cara berinteraksi dengan orang lain. Salah satu tanda orang yang sudah memiliki self ialah mereka yang sudah terbiasa bertindak sebagai subjek dan sekaligus sebagai objek.

Terjadinya proses sosialisasi pada seorang siswa dilakukan setelah dalam dirinya terbentuk self yang diawali dari dalam keluarga, cara orang tua mengekpresikan dirinya, kemudian cara tersebut diidentifikasikan dan diinternalisasikan menjadi peran dan sikapnya, dan akhirnya terbentuklah self siswa.

Beradasarkan uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa komunikasi dalam keluarga berperanan dalam pembentukan sikap siswa. Hal ini dapat terjadi memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1) Bersifat keterbukaan

2) Dilakukan secara kontinyu/terus menerus

3) Mengkomunikan sesuatu hal/berita yang benar

4) Komunikasi dilakukan dua arah

5) Dilakukan dengan ramah dan hormat

  1. B.     Peranan Sikap Orang Tua Dalam Pembentukan Harga Diri Anak

 

  1. 1.      Sikap Orang Tua Terhadap Anak

 

Sikap bukan sesuatu yang telah dibawa sejak individu dilahirkan , tetapi sikap merupakan sesuatu yang dibentuk dan dipelajari. terbentuknya sikap  pada masing masing pihak merupakan hasil presepsi masing masing pihak terhadap objek sikap. Bagaimana sikap orangtua terhadap anaknya dapat bermacam macam coraknya .
Menurut Johson dan Medinus (1974), pada umumnya hubungan anak dengan orangtua dapat dilihat dari dua arah yang taerpisah satu dengan yang lain, yaitu segi penerimaan-penolakan (acceptance-rejektion) dan otonomi-kontrol (autonomy-control). pendapat ini senada dengan yang dikemukakan oleh Hetherington dan Parke (1977), yaitu kehangatan-permusuhan (warmth-hostility) dan serba melarang-serba boleh (restrictiveness-permissiveness), yang pertama (kehangata dan penolakan orangtua terhadap anak ) merupakan aspek hubungan emosional, sedangkan yang kedua berhubungan dengan kontrol yang ketat dan yang bebas.
Otonomi- kontrol atau serba melarang-serba boleh mencerminkan hubungan orangtua dengan anak dalam kaitannya dengan pemberian atau penanaman disiplin pada anak.Dalam suasana otonomi atau serba boleh,Orangtua membeerikan kebebasan kepada anak dan orangtua tidak atau kurang memberikan kontrol pada anak.sebaliknya pada kontrol atau serba melarang orangtua sangat ketat memberikan kontrol pada anak,orangtua memberikan pengarahan tertentu dan anak tinggal menurut apa yang telah digariskan oleh orangtua,apabila anak tidak menurut apah yang telah digariskan oleh orangtua maka anak akan dianggap sebagai anak yang bandel.anak yang nakal dan istilah-istilah lain yang menggambarkan bahwa anak tdak tunduk kepada apah yang telah digariskan oleh orangtua  apabila hal tersebut terjadi  maka jelas sikap orangtua tidak begitu baik kepada anak yang bersangkutan.sebaliknya apabila anak menuruti apa yang telah digariskan oleh orangtua kepadanya maka anak dipandang sebagai anak yang baik dan penurut dimata orangtuanya. sikap yang berbeda dari orang tua tersebut dengan sendirinya  akan berpengaruh daam pembentukan harga diri anak.

  1. 2.      Hubungan Sikap Orang tua dengan Harga Diri Anak

 

Sikap yang berbeda dari orang tua terhadap anak akan mempunyai pengruh yang berbeda terhadap harga diri anak, sikap otoriter orangtua menyebabkan anak mempunyai sifat submisif, anak tidak mempunyai inisiatif karena takut berbuat kesalahan,anak menjadi anak penurut, anak  kurang atau tidak mempunyai tanggung jawab. sebaliknya dari pihak orangtua, anak dituntut untuk makin bertanggung jawab sesuai dengan perkembangan umurnya sehingga sering terjadi konflik antara orangtua dengan anak. anak merasa terhhalang dalam mencari kemandirian dan karena adanya konflik tersebut anak sering tidak mau mengadakan komunikasi dengan orangtua,anak menjadi bandel,akkhirnya dapat mengakibatkan jurang pemisah antara anak dengan orang tua  yang kadang kadang sulit untuk dipertemukan kembali .

BAB IV KESIMPULAN DAN PENUTUP

 

  1. A.    Kesimpulan

 

Komunikasi di dalam keluarga merupakan hal yang sangat penting dan perlu. Apalagi setelah hadirnya seorang anak di dalam keluarga, maka komunikasi itu menjadi lebih penting dan harus lebih terjalin antara suami dan istri, karena dari komunikasi yang baik akan menjadikan hubungan yang baik. Dari hubungan yang baik itulah anak akan menjadi baik pula. Sikap orang tua terhadap anak juga sangat mempengaruhi kepribadian dan sikap anak. Jika orang tua memperlakukan anak secara baik, maka anak tersebut juga akan menjadi baik pula.

  1. B.     Penutup

Demikian makalah ini saya buat. Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi diri saya sendiri dan bagi siapa saja yang membacanya. Apa yang ada dalam makalah ini baru sebagian kecil dari ilmu pengetahuan yang ada, maka kritik dan saran yang membangun sangatlah saya harapkan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Balson, Maurice. 1999. Becoming Better Parents: Menjadi Orang Tua yang Sukses. Jakarta: PT Grasindo.

Riyanto, Theo. 2002. Pembelajaran Sebagai Proses Bimbingan Pribadi. Jakarta: Grasindo

Suhendi, H. Hendi dan Ramdani Wahyu. 2001. Pengantar Studi Sosiologi Keluarga. Bandung: Pustaka Setia.

Walgito, Bimo. 2004. Bimbingan & Konseling di Sekolah. Yogyakarta: Andi Offset.

 


[1] Walgito, Bimo. 2004. Bimbingan & Konseling di Sekolah. Yogyakarta: Andi Offset. Hal. 203

[2] Walgito, Bimo. 2004. Bimbingan & Konseling di Sekolah. Yogyakarta: Andi Offset. Hal. 204

[3] Walgito, Bimo. 2004. Bimbingan & Konseling di Sekolah. Yogyakarta: Andi Offset. Hal. 204 – 207

[4] Walgito, Bimo. 2004. Bimbingan & Konseling di Sekolah. Yogyakarta: Andi Offset. Hal. 207 – 211

Makalah 6

 

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Diajukan Guna Melengkapi Tugas

Mata kuliah : Pengembangan Sistem Evaluasi PAI

Dosen Pengampuh: H.M Fatkhurronji, M.Pd.I

     Di Susun Oleh:

 

Ahmad Saihul Rizal           ( 11010160 )

Semester : IV (EMPAT)

Jurusan   : Tarbiyah

FAKULTAS TARBIYAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM WALI SEMBILAN SEMARANG

2012

 

 

TUJUAN INSTRUKSIONAL

 

BAB I PENDAHULUAN

          Materi atau bahan ajar tidak mungkin kita kuasai tanpa kita pelajari terlebih dahulu. Baik dipelajari secara sendiri ( individu ) maupun diajarkan oleh guru. Proses ini terjadi dalam situasi belajar- mengajar atau biasa disebut dengan  istilah pengajaran ( Instruksional ). Dalam proses belajar- mengajar, tidak selamanya dapat tercapai apa yang telah direncanakan. Beberapa kegagalan dalam proses pengajaran, dialami oleh pengajar / guru karena beberapa hal. Misalnya dalam suatu proses pengajaran, Guru sudah menyusun rencana/ target tentang bab ataupun materi yang akan diajarkan kepada siswa. Bagaimana agar dalam waktu satu  jam  pelajaran bisa menyelesaikan bab atau materi yang telah direncanakan. Namun terkadang ketika waktu  tidak mencukupi ataupun  habis sebelum semua materi disampaikan, guru cenderung mempercepat penyampaian materinya untuk mengejar target sesuai waktu yang telah ditentukan. Akibatnya, kdang anak kurang faham dengan materi yang diajarkan bahkan tidak faham sama sekali. Untuk meluruskan hal itu, setiap proses pengajaran harus memiliki tujuan. Tentunya tujuan itu adalah suatu tujuan yang dimengerti oleh guru begitu juga siswa. Dengan begitu, guru dan siswa tahu apa tujuan mempelajari materi yang akan diajarkan dan dipelajari.

BAB II  RUMUSAN MASALAH

  1. Apa yang dimaksud dengan Tujuan Instruksional ?
  2. Apakah Tujuan Instruksional itu memang perlu ?

BAB III  PEMBAHASAN

  1. A.   Pengertian Tujuan Instruksional

Materi bidang studi tidak mungkin menjadi milik kita, tanpa dipelajari terlebih dahulu, baik dipelajari sendiri maupun diajarkan oleh guru. Proses atau kegiatan mempelajari materi ini terjadi dalam saat terjadinya situasi belajar- mangajar atau pengajaran  ( Instruksional ). dari perkataan pengajaran atu instruksional inilah maka timbul istilah tujuan instruksional, yaitu tujuan yang menggambarkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan dan  sikap yang harus dimiliki oleh siswa sebagai akivbat dari hasil pengajaran yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku ( behavior ) yang dapat diamati dan diukur. .[1]

Macam- macam Tujuan Instruksional

Tujuan Instruksional dibagi menjadi 2 macam, yaitu :

  1. Tujuan Instruksional Umum ( TIU )
  2. Tujuan Instruksional Khusus ( TIK )

Pembedaan atas 2 macam tujuan instruksional ini didasarkan atas luasnya tujuan yang akan dicapai.

Di dalam merumuskan tujuan instruksional harus diusahakan agar tampak bahwa setelah tercapainya tujuan itu terjadi adanya perubahan pada dirianak yang meliputi beberapa hal  yaitu           :

  1. kemampuan intelektual
  2. sikap/ minat maupun keterampilan yang oleh Bloom dan kawan- kawanya dikenal sebagai aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotor
  1. B.   Apakah Tujuan Instruksional itu Memang Perlu ?

Bekerja tanpa diketahui arahnya sama halnya dengan berlayar tanpa diketahui mau menuju ke pulau  mana laju kapal akan dilarikan. Kapal  itu akan berputar- putar saja di tengah lautan yang terbentang luas, kadang- kadang menghadap kebarat, kadang- kadang menghadap ke timur dan sebagainya dan akhirnya tidak diketahui apa hasil yang telah dilakukan.

Demikian pula halnya denganmengajar. Guru yang tidak mengetahui apa tujuan mengajarnya , tidak akan  jelas setiap kegiatan yang dilakukan.

Dahulu ada kecenderungan bagi guru untuk menentukan tujuan pelajaranya pada msalah penyelesaian bahan. Dalam satu jam mengajar guru telah menargetkan berapa bab atau berapa bagian bahan materi pelajaran yang akan diselesaikan dalam jam pelajaran itu. Akibatnya guru tersebut akan terpaku pada bahan yang telah ditargetkan, dan apabila waktunya hampir habis, Ia percepat menerangkan materi tersebut agar target yang telah ditetapkan tercapai sesuai keinginan, tanpa memperhatikan apakah siswanya dapat memahami pelajaran yang telah disampaikan ataupun kurang faham, bahkan tidak faham sama sekali.

Dalam pembaruan sistem pendidikan yang berlaku di Negara Indonesia sekarang ini, semua guru dituntut untuk menyadari tujuan dari kegiatan mengajarnya dengan titik tolak kebutuhan siswa. Oleh karena itu dalam merancang sistem belajar yang akan dilakukanya, langkah pertama yang Ia lakukan ialah membuat tujuan instruksional. Dengan tujuan instruksional      :

1)      Guru mempunyai arah untuk  :

  • memilih bahan pelajaran,
  • memilih prosedur ( metode ) mengajar.

2)      Siswa mengatahui arah belajarnya.

3)      Setiap guru mengetahui batas- batas tugas dan wewenangnya mengajarkan suatu bahan sehingga diperkecil kemungkinan timbulnya celah ( gap ) atau saling menutup ( overlap ) antara guru.

4)      Guru mempunyai patokan dalam mengadakan penilaian kemajuan belajar siswa,

5)      Guru sebagai pelaksana dan petugas – petugas pemegang kebijaksanaan ( decision maker ) mempunyai kriteria untuk mengevaluasi kualitas maupun efisiensi pengajaran.

  1. C.   Merumuskan Tujuan Instruksional

 

            Telah disebutkan bahwa tujuan instruksional adalah tujuan yang  menyatakan adanya sesuatu yang dapat dikerjakan atau dilakukan oleh siswa  setelah  pengajaran. Jadi sebelum adanya pengajaran, siswa tidak mempunyai kemampuan untuk mengerjakan ataupun melakukanya.

Contohnya      :

 

            Sebelum ada pengajaran, siswa belum dapat membuat tabel spesifikasi, sesudah pengajaran diberikan siswa dapat membuat tabel spesifikasi.

Jadi, dalam diri siswa terjadi perubahan tingkah laku selama mengikuti program pengajaran, atau dengan lain perkataan , perubahan tingkah laku  itu merupakan hasil dari adanya proses belajar mengajar. Oleh karena itu baik guru maupun siswa perlu mengetahui perubahan apakah yang telah terjadi pada waktu pengajaran, maka perlu adanya perumusan yang jelas bagi tujuan instruksional itu.

Pada pelaksanaan sistem- sistem baru misalnya sistem pengajaran dengan modul atau sistem yang menggunakan strategi belajar tuntas, tujuan instruksional ini sudah diketahui oleh siswa sebelum pelajaran mulai.

  1. D.   Langkah – Langakah yang Dilakukan dalam MerumuskanTujuan Instruksional Khusus

 

  1. Membuat sejumlah TIU ( Tujuan Instruksional Umum ) untuk setiap mata pelajaran/ bidang studi yang akan diajarkan. Di dalam kurikulum tahunn 1975 maupun 1984, TIU ini sudah ada tercantum dalam buku Garis- Garis Besar Program Pengajaran. Dalam merumuskan TIU digunakan  kata kerja yang sifatnya masih umum dan tidak dapat diukur karena perubahan tingkah laku masih terjadi di dalam diri manusia ( intern ).
  2. Dari masing- masing TIU dijabarkan menjadi sejumlah TIK yang rumusnya jelas, khusus, dapat diamati, terukur, dan menunjukkan perubahan  tingkah laku.

 

Contoh- contoh rumusan untuk TIU :

–          Memahami teori evaluasi

–          Mengetahui  perbedaan antara skor dan nilai.

–          Mengerti cara mencari validita.

–          Menghayati perlunya penilaian yang tepat.

–          Menyadari  pentingnya mengikuti kuliah dengan teratur.

–          Menghargai kejujurann mahasiswa dalam mengerjakan tes.

Dalam contoh- contoh ini digunakan kata- kata kerja : memahami, mengetahu, mengerti, menghayati, menyadari, menghargai, dan masih ada beberapa lagi yang sifatnya masih terlalu umum sehingga penafsiranya dapat berbeda antara orang yang satu dengan orang lainya.

Atas dasar keterangan ini maka agar dalam mengadakan evaluasi terlihat hasilnya, TIU ini perlu diperinci lagi sehingga menjadi jelas dan tidak dapat disalahtafsirkan oleh beberapa orang.

Rumusan TIK yang lengkap memuat tiga komponen , yaitu              :

  1. Tingkah laku akhir ( terminal behavior )
  2. Kondisi demonstrasi ( condition of demonstration or test ).
  3. Standar keberhasilan ( standar of performace ).

 

  1. E.   Tingkah Laku Akhir

 

            Tingkah laku akhir adalah tingkah laku yang diharapkan setelah seseorang mengalami proses belajar. Tingkah laku ini harus menampakkan diri dalam suatu perbuatan yang dapat diamati dan diukur ( observable and measurable ).

 

Contohnya      :

–          menuliskan kalimat perintah

–          mengalikan  pecahan persepuluhan

–          menggambarkan kurva normal.

dan lain sebagainya yang berwujud  kata kerja perbuatan/ operasional  ( action verb ) yang dapat diamati dan diukur.

  1. F.    Kata – Kata Oprasional

 

  1. a.      Cognitive domain ; levels and corresponding action verbs[2]

   Meliputi :

1)      Pengatahuan ( knowledge )

2)      Pemahaman ( comprehension )

3)      Aplikasi

4)      Analisis

5)      Sintesis

6)      Evaluasi

  1. b.      Affective domain : learning levels and corresponding action verbs

   Meliputi :

1)      Reesiving

2)      Responding

3)      Valuting

4)      Organization

5)      Characterization by value or value complex

  1. c.       Psychomotor domain

1)      Muscular or motor skills

2)      Manipulations of materials or objects

3)      Neuromuscular coordination

 

BAB IV  ANALISIS

Materi suatu bidang studi tidak , tanpa dipelajari terlebih dahulu, baik dipelajari sendiri maupun diajarkan oleh guru. Proses atau kegiatan mempelajari materi ini terjadi dalam saat terjadinya situasi belajar- mangajar atau pengajaran  ( Instruksional ). dari perkataan pengajaran atu instruksional inilah maka timbul istilah tujuan instruksional, yaitu tujuan yang menggambarkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan dan  sikap yang harus dimiliki oleh siswa sebagai akivbat dari hasil pengajaran yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku ( behavior ) yang dapat diamati dan diukur.

Tujuan Instruksional dibagi menjadi 2 macam, yaitu :

  1. Tujuan Instruksional Umum ( TIU )
  2. Tujuan Instruksional Khusus ( TIK )

Pembagian diatas berdasarkan luasnya tujuan yang akan dicapai.

Dalam suatu proses pengajaran ( Instruksional ) tentunya hanyalah untuk memajukan dan mengembangkan serta mengefisienkan waktu agar tercapai sesuai dengan apa yang ditargetkan.

BAB V  KESIMPULAN

Materi atau bahan ajar tidak mungkin kita kuasai tanpa kita pelajari terlebih dahulu. Baik dipelajari secara sendiri ( individu ) maupun diajarkan oleh guru. Proses ini terjadi dalam situasi belajar- mengajar atau biasa disebut dengan  istilah pengajaran ( Instruksional ). Dalam proses belajar- mengajar, tidak selamanya dapat tercapai apa yang telah direncanakan. Beberapa kegagalan dalam proses pengajaran, dialami oleh pengajar / guru karena beberapa hal. Misalnya dalam suatu proses pengajaran, Guru sudah menyusun rencana/ target tentang bab ataupun materi yang akan diajarkan kepada siswa. Bagaimana agar dalam waktu satu  jam  pelajaran bisa menyelesaikan bab atau materi yang telah direncanakan. Namun terkadang ketika waktu  tidak mencukupi ataupun  habis sebelum semua materi disampaikan, guru cenderung mempercepat penyampaian materinya untuk mengejar target sesuai waktu yang telah ditentukan. Akibatnya, kdang anak kurang faham dengan materi yang diajarkan bahkan tidak faham sama sekali. Untuk meluruskan hal itu, setiap proses pengajaran harus memiliki tujuan. Tentunya tujuan itu adalah suatu tujuan yang dimengerti oleh guru begitu juga siswa. Dengan begitu, guru dan siswa tahu apa tujuan mempelajari materi yang akan diajarkan dan dipelajari. Dan sesuai dengan keinginan serta harapan yang telah direncanakan.

BAB VI  PENUTUP

Demikian makalah ini kami buat. Kami menyadari bahwa dalam pembahasan ini, masih banyak kekurangan. Dan semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi diri kami sendiri dan bagi orang lain tentunya, amiin.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Suharsimi Ari Kunto Prof. Dr. 2002. Dasar- Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : BUMI AKSARA

Wuradji Drs.1978.  Dasar- Dasar Pengukuran dan Penilaian Hasil Belajar. Yogyakarta : DINA

Marsandi, Suharsimi Ari Kunto.1978.  Dasar- Dasar Ruang Lingkup dan Setrategi Penilaian di Sekolah,. Jakarta : BP3K, Dep. P dan K


[1]  Soemarsono Drs. M. Sc : Tujuan Instruksional  Pusat Pengembangan Kurikulum. BP3K.

Dep. P dan K, Jakarta, 1978, hal. 3.

[2] Dikutip dan diterjemahkan dari George E. Dickson & Richard W . saxe et. al. Partner for Education Reform and Revewal , Mc. Cutchen publishing Corporation. 1973, p. 33.

Makalah 7

 

IBADAH HAJI DAN UMROH

BAB I PENDAHULUAN

Ibadah haji dan umroh adalah suatu ibadah yang dilakukan di Tanah Suci Mekkah. Ibadah haji ini merupakan salah satu dari rukun islam. Adapun hukumnya adalah wajib bagi yang sudah mampu, baik dari segi materi atau biaya maupun kesehatan dan kondisi fisik. Dalam mengerjakan ibadah tersebut, terdapat beberapa aturan- aturan yang telah ditentukan oleh syariat islam. Tanpa adanya aturan, para jamaah tidak tahu bagaimana cara melaksanakan ibadah haji dan umroh. Maka dari itulah kita perlu mengetahui aturan- aturan atau cara –cara untuk melakukan ibadah haji maupun umroh atau biasa disebut dengan syarat wajib, syarat sahnya haji, Rukun haji, dan sunah haji.

BAB II PERMASALAHAN

  1. Bagaimanakah syarat wajib, syarat sahnya haji , rukun dan sunnahnya haji?
  2. Bagaimanakah syarat wajib dan rukunya umroh?

BAB III PEMBAHASAN

  1. A.   HAJI

Setiap orang yang hendak menunaikan ibadah haji, hendaklah terlebih dahulu memahami hal- hal yang berkaitan dengan ibadah haji, baik itu syarat wajib, syarat sah, rukun sampai sunahnya haji.

  1. 1.     Pengertian dan hukum haji

Haji menurut bahasa adalah menyengaja. Sedangkan menurut istilah adalah sengaja mengunjungi mekkah (Ka’bah)  untuk mengerjakan ibadah yang terdiri atas towaf, sa’i, wukuf, dan amalan- amalan lainya pada masa tertentu demi memenuhi panggilan Allah SWT, dan mengharapkan ridho- Nya.

Ibadah haji merupakan rukun islam yang kelima. Adapun hukum mengerjakan ibadah haji adalah wajib bagi yang mampu. Sebagaimana telah diterangkan dalam Al- qur’an surat Al- imron ayat 97              :

Artinya :

“ padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim ; Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

 

Dan rosulullah SAW. Bersabda dalam sebuah hadis berikut yang artinya         :

 

“ Islam ditegakkan atas lima perkara, bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah, menegakkan sholat, membayar zakat, mengerjakan haji ke Baitullah, berpuasa pada bulan ramadhan. (HR. Al- bukhari dan Muslim dari Abdullah : 21)”

 

 

 

 

  1. 2.     Syarat wajib dan syarat Sahnya Haji

Syarat wajib haji adalah hal-  hal yang yang apabila terpenuhi menyebabkan orang yang bersangkutan wajib menunaikan haji. Sedangkan syarat sah adalah hal- hal yang harus dipenuhi oleh orang yang menunaikan ibadah haji. Apabila tidak terpenuhi salah satu dari syarat sah, maka hajinya tidak sah.

  1. Syarat wajib haji

Syarat wajib haji yaitu   :

  1. Islam
  2. Baligh/ dewasa
  3. Berakal sehat
  4. Merdeka ( Tidak menjadi budak )
  5. Istita’ah atau mampu

Meliputi tiga perkara yaitu          :

  1. Mempunyai biaya untuk pergi dan pulang dari Tanah suci ( termasuk biaya hidup keluarga yang ditinggalkan)
  2. Adanya alat transportasi ( walaupun sewa)
  3. Aman dalam perjalanan sejak berangkat sampai pulang ke rumah lagi.

Adapun wanita yang menunaikan ibadah haji harus dengan mahramnya. Sebagaimana diterangkan di dalam Hadis          :

Dari Ibnu Abbas, Rosulullah SAW bersabda, “ janganlah seorang wanita bepergian, kecuali bersama mahramnya.” ( HR. Al- Bukhari : 1729 )

  1. Syarat sah haji

Haji dinyatakan say apabila pelaksanaanya memenuhi beberapa syarat berikut                  :

  1. Dilaksanakan sesuai batas- batas waktunya, misalnya mikat zamani ( batas waktu pemakaian ihram) dan batas waktu wukuf
  2. Melaksanakan rukun haji dengan tertib / tidak dibolak- balik
  3. Dipenuhi syarat- syaratnya ,misalnya syarat towaf dan sa’i
  4. Dilaksanakan di tempat yang telah ditentukan, misalnya tempat wukuf , tawaf, sa’i, melontar jumrah, dan hadir di muzdalifah ataupun bermalam di Mina.
  1. 3.     Rukun haji

Rukun haji yaitu hal- hal yang harus dilaksanakan dalam ibadah haji. Adapun rukun haji adalah sebagai berikut          :

  1. Ihrom dengan niat ibadah haji
  2. Wukuf ( diam) di padang Arafah pada tanggal 9 dzulhijjah.
  3. Tawaf ( mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali ) dengan syarat sebagai berikut             :
    1. Suci dari hadats dan najis
    2. Menutup aurat
    3. Ka’bah berada di sebelah kiri orang yang tawaf
    4. Satuan hitunganya dimulai dari rukun hajar aswad
    5. Tawaf dilakukan di dalam masjid

Adapun macam- macam tawaf yaitu          :

  1. Tawaf ifadah ( tawaf rukun haji )
  2. Tawaf qudum yaitu tawaf yang dilakukan ketika baru saja dating di tanah suci
  3. Tawaf sunah ( tawaf yang dapat dilakukan kapan saja)
  4. Tawaf wadak, yaitu tawaf yang dilakukan ketika hendak meninggalkan tanah suci (  ketika akan pulang ).
  5. Sa’I ( lari- lari kecil dari bukit Safa ke Marwah dan sebaliknya ).

Syarat – syaratnya ialah              :

  1. Dilakukan dari bukit Safa dan diakhiri di bukit Marwah.
  2. Dilakukan sesudah tawaf , baik tawaf qudum maupun tawaf ifadah
  3. Dilakukan sebanyak tujuh kali
  1. Bercukur atau memotong sebagian rambut kepala ( tahalul)
  2. Tertib atau urut. Yaitu tidak boleh dirubah dari urutan ke satu sampai urutan berikutnya.
  1. Sunah haji

Sunah- sunah haji diantaranya sebagai berikut             :

  1. Ifrad , yaitu mendahulukan haji dari pada umroh
  2. Membaca talbiyah

Laki- laki membaca talbiyah dengan suara keras / nyaring, sedamgkam perempuanhendaknya mengucapkan hanya sekedar terdengan oleh telinga sendiri. Talbiyah dibaca selama masih dalam waktu ihrom sampai melontar jumroh aqobah. Lafal talbiyah adalah

لبيك اللهم لبيك ، لبيك لا شريك لك لبيك ان الحمد والنعمة لك والملك لا شريك لك .روه مالك

  1. Berdo’a sesudah membaca talbiyah
  2. Membaca do’a (dzikir ) sewaktu melaksanakan tawaf
  3. Sholat dua rakaat sesudah tawaf
  4. Masuk ke Ka’bah.

Demikian adalah syarat wajib, syarat sah , rukun, dan sunah- sunah dalam ibadah haji.

  1. B.   UMROH

 

  1. 1.     Pengertian umroh

Umroh ialah ibadah yang dilakukan di Tanah Suci Mekkah , yang menyerupai ibadah haji dengan beberapa perbedaan tertentu. Hukum umroh adalah fardhu ain sekali seumur hidup bagi yang sudah mampu/ memenuhi persyaratanya.

  1. 2.     Syarat wajib dan rukun umroh

Syarat wajib umroh sama dengan syarat wajib haji. Rukun umroh sama dengan rukun haji , kecuali wukuf (umroh tidak memakai wukuf di arafah).

BAB IV KESIMPULAN DAN PENUTUP

  1. A.   KESIMPULAN
  1. Ibadah haji  adalah ibadah yang dilakukan di tanah suci. Hukum ibadah haji ini adalah wajib bagi yang mampu dan sudah memenuhi beberapa persyaratanya. Setiap orang yang hendak melakukan ibadah haji, hendaknya terlebih dahulu mengetahui tentang hal- hal yang berkaitan dengan ibadah haji seperti syarat wajib, syarat sah, rukun dan sunnahnya haji.
  2. Umroh adalah ibadah yang dilakukan di Tanah suci yang menyerupai haji , namun ada beberapa perbedaan tertentu.

 

  1. B.   PENUTUP

Diantara ibadah haji dan umroh ini tentunya memiliki kesamaan dan perbedaan dari segi- segi tertentu. Namun keduanya sama- sama sebagai ibadah yang dilakukan di Tanah suci dan dengan syarat dan ketentuan yang telah ditentukan masing- masing.

DAFTAR PUSTAKA

Qardhowi, Yusuf, Syekh Muhammad. 1980. Halal Dan Haram Dalam Islam . Surabaya : PT Bina Ilmu.

Rasyid, Sulaiman. 1987. Fiqh Islam .Bandung : PT Sinar Baru.

Razak, Nasruddin. 1982. Fiqhussunnah. Bandung : PT Al- Ma’arif.

Zuhdi, Masyfuq. 1993.  Masail Fiqhyah.  Jakarta : CV Haji Masagung.

Hasyim, Husaini. 1985.  Syarah Riyadlu Shalihin. Surabaya : Pustaka Ilmu.

Makalah 8

MAKALAH

POLA DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM DI NUSANTARA PADA AWAL SAMPAI SEBELUM KEMERDEKAAN

Di susun guna memenuhi tugas mata kuliah Metode Penelitian

Dosen Pengampu : Mustaghfirin, M.Pdi

Disusun Oleh :

                                                      Nama :

1.Nur Wahid (11010498)

2.A. Saikhul Rizal (11010160)

FAKULTAS TARBIYAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM WALISEMBILAN SEMARANG

(SETIA WS)

2011

POLA DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM DI NUSANTARA PADA MASA AWAL SAMPAI SEBELUM KEMERDEKAAN

BAB I  PENDAHULUAN

Pola pendidikan dan kebijakan islam di indonesia, tidak dapat lepas dari apa yang di ilustrasikan pada kebijakan pemerintah Belanda terhadap Indonesia, yang memberi gambaran bahwa hubungan pertama antara pengembangan agama islam dengan berbagai jenis kebudayaan di Indonesia merupakan akomodasi kultural yang harus di temukan. Hal tersebut berawal dari pembentukan dalm dunia dagang, dimana sejarah juga menunjukan penyebaran islam yang terjadi dalam suatu kontakintelektual ketika ilmu-ilmu di pertentangkan atau di pertemukan ketikan kepercayaan dunia lama mulai menurun. Oleh Karena itu, ketika kaum kolonial Belanda berhasil menancapkan kukunya di bumi Nusantra dengan misinya yang ganda antar imperalis dan krestenisasi justru sangat merusak menjungkir balikkan tatanan yang sudah ada.

Kedatangan Belanda di satu pihak memang telah membwa kemanjuan teknologi, tetapi kemajuan hanyalah untuk meningkatkan hasil penjajahannya. Begitu pula dengan pendidikan mereka telah memperkenalkan sistem dan metodologi baru yang tentu saja efektif, namun semua itu di lakuakan untuk menghasilkan tenaga-tenaga yang dapat membantu segala kepentingan penjajah.

 

BAB II PERMASALAHAN

  1. Bagaimanakah pola dan kebijakan pendidikan islam di nusantara pada masa awal sampai sebelum kemerdekaan?
  2. Bagaimanakah pola dan kebijakan pemerintah Belanda sejak  awal sampai sebelum kemerdekaan?

BAB III PEMBAHASAN

  1. A.   Pola dan kebijakan pendidikan islam di nusantara pada masa awal sampai sebelum kemerdekaan

 

Pemerintahan kolonial Belanda memperkenalkan sekolah-sekolah modern menurut sitem pendidikan yang berkembang di dunia barat, dan sedikit banyaknya mempengaruhi pendidikn yang ada di Indonesia, yaitu  pesantren. Padahal di ketahui bahwa pesantren adalah ssatu satunya ppendidikan formal yang ada di indonesia, dan ini sanngat berpengaruh terhadap pendidikan uyang ada di indonesia.

Hal ini dapat di lihat dari terpecahnya pendidikan di Indonesia menjadi dua golongan, yaitu: 1. Pendidikan yang di berikan oleh sekolah barat yang sekuler yang tidak mengenal ajaran agama, 2. Pendidikan yang di berikan oleh pesantren yang hanya mengutamakan pendidikan agama saja. Pendidikan yang di kelola pada pereode ini terdapat dua corak, yaitu corak lama yang berpusat pondok pesantren dan corak baru dari perguruan sekolah-sekolah yang di dirikan oleh Belanda. Pendidikan yang di kelola Belanda khususnya mengacu pada pengetahuan dan keterampilan duniawi yaitu pendidikan umum, sedangakan pendidikan islam lebih menekankan pada pengetahuan dan keterampilan yang berguna dalam penghayatan agama.

Dengan terpecahnya dunia pendidika yang ada di Indonesia menjadi dua corak, tentunya tidak mendatangkan keuntungan bagi rakyat Indonesia, yang ada hanya membawa pengaruh yang tidak baik terhadap masyarakat mmuslim. Di sisi lain juga di perlukan mengetahui perembangan dunia luar teknologi, dan juga harus memerlukan adanya pemahaman keagamaan yang telah di tanamkan jauh hari sebelum Belanda datang dengan pendidikan pesantren.

Dari alasan-alasan tersebutlah yang membuat adanya pembaharuan dalam bidang atau pola pendidikan, yakni dengan adanya pola yang ketiga. Pola yang menggabungkan dua pola sebelumnya. Corak pendidikan ketiga sintesis, muncul bersamaan dengan lahirnyamadrasah-madrasah yang berkelas yang muncul sejak tahun 1909.

Adapun madrasah-madrasah yang didirikan di Indonesia:

 

a. Adabiyah School

Didirikan oleh H. Abdullah Ahmad pada tahun 1907 di Padang Panjang. Sekolah ini sudah menggunakan bangku dan meja sebagai sarana didalamnya. Namun pada tahun kedua sekolah ini tidak mampu bertahan karena adanya reaksi keras dari masyarakat tradisional. Akhirnya H. Abdullah mengambil uji kelayakan di madrasah Al-Iqbal Al Islamiyah di Singapura dan mendapatkan motivasi dari Syeikh Taher Djalaludin.  Pada tahun 1909 sekolah ini akhirnya dibuka kembali ditempat yang sama dengan nama Perguruan Adabiyah. Dan sekolah ini hidup atau berlangsung sampai tahun 1914.

Perhatian terhadap pendidikan umum lebih ditekankan daripada pendidikan agama. Sebab, pendidikan umum amat sangt laku di Padang. Namun ada hal yang membedakan antara sekolah ini dengan sekolah buatan belanda, yakni adanya penekanan terhadap kajian agama dan al-Qur’an sebagai mata pelajaran wajib. Menurut Stoddard, Adabiyah merupakan Staring Point dalam pembaharuan pendidikan islam.

b.Madrasah Diniyah School

Didirikan oleh Zaenudin Labia El- Yunisi 1890- 1924, mendirikan Madrasah Diniyah School pada tahun 1915, sebagai sekolah agama pertama yang dilaksanakan menurut system pendidikan modern yaitu menggunakan alat tulis dan alat peraga .

c.Madrasah Muhammadiyah

Di dirikan oleh KH. Ahmad Dahlan 1868- 1923, yang mendirikan organisasi Muhammadiyah bersama teman- temanya di kota Yogyakarta pada tahun 1912, tujuanya menyebarkan pengfajaran Rosulullah kepada penduduk bumi putra dan memajukan islam. Dikatakan senada dengan yang dilakukan Abdul Ahmad di Padang Panjang karena dipengaruhi tiga hal yaitu kegiatan tablig, mendirikan sekolah swasta menurut model pendidikan gubernemen, untuk membentuk kader organisasi dan guru- guru agama, didirikan pondok Muhammadiyah seperti norma islam di Padang.

d.Sumatera Thawalib

Sementara itu surau pertama yang memakai sisitem kelas, kelas dalam proses belajar mengajar adalah Sumatera Thawalib Padang Panjang yang dipimpin oleh Syekh Karim Amrullah pada tahun 1921. Sistem pendidikan yang dipakai sama dengan surau- surau lainya di Minangkabau, namun berkat dorongan membaca dan diskusi, dilakukan perubahan dengan penyelenggaraan pendidikan berkelas, sekitar tahun 1912. Namun sekolah ini belum menambah materi pelajaran umum, tetapi sudah literature klasik dan modern.

e.Madrasah Salafiyah

Madrasah lain yang berperan dalam pembaruan islam di Jawa yaitu Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang Jawa Timur. Didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari tahun 1989. Pola pendidikanya lebih menitik beratkan ke ilmu- ilmu agama dan bahasa arab dengan system sorogan dan bandongan. Madrasah- madrasah yang didirikan hampir mirip dengan yang didirikan organisasi Muhammadiyah, karena lebih menggutamakan pendidikan social, tablig, kemanusiaan bahkan politik, di bawah naungan organisasi islam Nahdlatul Ulama.

Dari berbagai hasil uraian di atas dapat ditegaskan bahwa pada periode Indonesia merdeka terdapat berbagai corak pengembangan pendidikan islam, yaitu :

  1. Isolatif- Tradisional, dalam arti tidak mau menerima apa saja yang berbau kolonial barat dan terhambatnya pengaruh pemikiran islam modern, hal ini dapat dilihat pada pondok pesantren tradisional yang hanya menonjolkan ilmu- ilmu agama islam dan tidak memberikan pengetahuan umum yang tujuanya untuk menciptakan calon- calon kiai atau ulama yang hanya menguasai masalah agama saja.
  2. Sintesis, yaitu mempertemukan antara corak lama pondok pesantren dengan corak baru model pendidikan kolonial atau barat yang berwujud sekolah atau madrasah dalam realitasnya,corak pendidikan ini mengandung beberapa variasi pola pendidikan islam yaitu pola pendidikan madrasah mengikuti format pendidikan barat terutama dalam pengajaran klasikal, tetapi isi pendidikan lebih menonjolkan agama, pola pendidikan mengutamakan pendidikan agama tetapi pelajaran umum diberikan secara terbatas, pola pendidikan madrasah yang menggabungkan antara muatan keagamaan dan nonkeagamaan secara seimbang.
  1. B.   Pola Dan Kebijakan Pemerintah Belanda Sejak Awal Sampai Sebelum Kemerdekaan

 

Tidak dapat dipungkiri bahwa penjajahan Belanda selama tiga ratus lima puluh tahun dengan misi kristenisasi dan westernisasi, dengan berbagai penindasan yang dilakukan terhadap rakyat indonesia dengan berbagai kebijakan politik yang sangat merugikan bangsa indonesia. Zaenudin Zuhri menggambarkan bahwa rakyat indonesia yang mayoritas islam tidak memandang orang- orang barat sebagai pembawa kemajuan dan teknologi , melainkan sebagai penakluk dan penjajah dan imperialis. Dalam dada penjajah tersebut begitu kuat ajaran dari politikus curang dan licik Machiavelli yang berisikan :

  1. Agama sangat diperlukan bagi penjajah
  2. Agama dipakai untuk menjinakkan dan menaklukkan rakyat
  3. Setiap aliran agama yang dianggap palsu oleh pemeluk agama yang bersangkutan digunakan untuk memecah belah mereka dan mencari bantuan kepada pemerintah.
  4. Janji dengan rakyat tidak perlu ditepati jika merugikan.
  5. Tujuan dapat menghalalkan segala cara.

Kebijakan belanda dalam mengatur jalanya pendidikan dimaksudkan untuk kepentingan mereka sendiri terutama untuk kepentingan kristen. Sekolah- sekolah kristen dianggap sebagai sekolah Pemerintah, sedangkan pendidikan agama islam yang berada di Pondok Pesantren, masjid dan mushola atau yang lainya dianggap tidak membantu pemerintahan Belanda.

Bila dilihat dari beberapa kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah kolonial yang demikian ketatnya, namun kenyataanya berbicara lain. Masyaraka islam pada waktu itu seperti air hujan atau air bah yang sulit di bendung. Selanjutnya mengenai kondisi pendidikan itu sendiri tumbuh dan berkembang sebagaimana adanya, meskipun berbagai kebijakan yang diterapkan pemerintahan islam sendiri pada zaman pemerintahan kolonial Belanda.

  1. Pendidikan islam sebelum tahun 1900

Secara rumah tangga dan secara surau/langgar atau masjid, pendidikan ini lebih mengutamakan pelajaran praktis seperti : Ketuhanan, Keimanan dan masalah- masalah yang berhubungan dengan ibadah. Belum ada pemisahan mata pelajaran tertentu. Mempunyai dua tingkatan yaitu pelajaran Al- qur’an, kemudian baru dilanjutkan pengkajian kitab- kitab seperti Ilmu sorof, Nahwu, Tafsir ,dan lain- lain.

Pendidikan ini memiliki ciri- ciri :

  1. Pelajaran diberikan satu demi satu
  2. Pelajaran ilmu sorof didahulukan dari nahwu
  3. Buku pelajaran pada mulanya dikarang oleh ulama dari indonesia dan diterjemahkan dalam bahasa daerah setempat
  4. Kitab yang digunakan pada umumnya ditulis tangan
  5. Pelajaran suatu ilmu hanya diajarkan dalam satu macam buku saja
  6. Tokoh buku belum ada, yang ada hanyalah menyalin buku dengan tulisan tangan
  7. Kerana terbatasnya bacaan, materi ilmu agama sangat sedikit
  8. Belum lahir aliran baru dalam islam.

Pada periode ini sulit menentukan secara pasti kapan dan dimana surau atau langgar dan pesantren yang pertama berdiri. Kendati demikian dapat diketahui bahwa pada abad ke- 17 M, di Jawa Tengah terdapat pesantren Sunan Bonang di tuban, Sunan Ampel di surabaya, Sunan Giri di sidomukti Giri dan sebagainya. Namun jauh sebelum itu ada sebuah pesantren di Hutan Glagah sebelah selatan Jepara yang didirikan oleh Raden Fatah pada tahun 1475 M.

  1. Pendidikan Islam Pada Masa Peralihan

Dalam tahun 1905, pemerintah mengeluarkan suatu peraturan yang mengharuskan para guru agama islam memiliki izin khusus untuk mengajar kedudukanya tentang pendidikan islam. Izin ini mengemkakan secara terperinci sifat pendidikan yang dilaksanakan, dan guru agama yang bersangkutan secara periodik kepada kepala daerah yang bersangkutan.

Bupati atau pejabat yang kedudukanya juga harus mengawasi dan mengecek apakah guru tersebut bertindak sesuai izin yang diberikan, dan mengawasi anak- anak murid.pengawasan yang terus menerus dianggap oleh guru agama sebagai pembatasan yang benar- benar terbatas dalam memberikan pelajaran.

Pada periode ini banyak berdiri tempat pendidikan islam terkenal seperti Surau Parabek Bukit tinggi 1908, Pesantren Tebuireng, namun sistem madrasah belum dikenal. Periode ini dipelopori oleh Syekh Khatib Minangkabau dan kawan- kawanya yang telah banyak mengajar pemuda di Mekkah, terutama pemuda yang berasal dari Indonesia dan Malaysia.

Demikian terlihat jelas akan adanya perbedaan pelaksanaan pendidikan islam pada masa peralihan dengan masa sebelum tahun 1900, dimana kebijakan pemerintah kolonial Belanda sedang ketat- ketatnya, dan sedang gencar mempropagandakan pendidikan yang mereka kelola, yang membedakan antara golongan pribumi dengan priyayi atau pejabat bahkan yang beragama kristen.

  1. Pendidikan Islam Sesudah Tahun 1909

Dengan tampilnya Budi Utomo dengan isu nasionalismenya pada tahun 1908, yang menyadarkan bangsa Indonesia bahwa perjuangan selama ini hanya mengandalkan kekuatan kedaerahan tanpa adanya persaatuan sehingga sulit mencapai kemerdekaan. Pada tahun1926 diadakan kongres islam di Bogor, yang tidak mempersoalkan peraturan 1905 lagi, karena telah diganti dengan peraturan baru, yaitu ordonasi guru tahun 1925.

Menurut peraturan ini izin Bupati tidak diperlukan untuk memberikan pelajaran agama, tetapi guru agama islam hendaklah memberitahukan kepada pejabat yang bersangkutan tentang maksud mereka mengajar.

Pemberi tahuan tersebut disampaikan dalam formulir khusus yang diberikan oleh kepala pemerintah setempat.

Kongres Al- Islam tahun 1926 ini menolak cara pengawasan tersebut karena menganggap pemerintahan secara periodik tentang kurikulum, guru- guru dan murid- murid sebagai beban berat , terutama kepada masyarakat pesantren dan lembaga pendidikan islam yang tidak mempunyai biaya untuk menyelenggarakan administrasi sekolah dengan sempurna. Sebagai contoh tentang formulir yang bersangkutan harus di tulis dalam bahasa Belanda, padahal  boleh dikatakan bahwa hampir semua guru agama tersebut hanya memahami bahasa sendiri dan bahasa arab. Peraturan tersebut mempunyai sifat luas yang penerapanya tidak hanya di Pulau Jawa , namun juga diberlakukan di Aceh, Sumatera Timur, Riau, Palembang , Tapanuli, Manado dan Lombok sejak 1 januari 1927.

Sementara di Minangkabau, yang mempunyai banyak pendidikan agama, berhasil melepaskan diri dari ketentuan tersebut. Hal tersebut tidak disebabkan oleh kerelaan pemerintah, karena Belanda memang berusaha untuk memberlakukan peraturan tersebut. Segera setelah terjadi pemberontakan komunis di Minangkabau pada tahun 1927 M, dikeluarkan peraturan diberbagai tempat bahwa seseorang harus minta izin resmi untuk memberi pelajaran. Hal ini nampaknya nerupakan penerapan peraturan 1925 M.

Selanjutnya pada tahun 1932 keluar pula peraturan yang dapat memberantas dan menutup madrasah dan sekolah yang tidak ada izinya atau memberikan pelajaran yang tidak disukai pemerintah , yang disebut dengan undang- undang sekolah liar / wild school ordonantie. Peraturan ini dikeluarkan setelah muncul gerakan nasionalisme islamisme pada tahun 1928 M berupa sumpah pemuda.

Peraturan tersebut sangat merugikan , karena dipandang sebagai usaha pemerintah untuk menghambat perkembangan pendidikan pada umumnya dan perkembangan pendidikan nasional khususnya.

Akhirnya pada tanggal 26 sampai 27 Desember 1932 M,dewan pendidikan dari permi memutuskan bahwa ordonansi tersebut melanggar dasar- dasar islam dan dasar- dasar umum dan merupakan pukulan terhadap sekolahan- sekolahan Thawalib, sedangkan kebebasan bangsa Indonesia untuk menganut dan membangun pendidikan menurut harapan – harapan sendiri dikurangi, maka bergabunglah permi dengan teman siswa dalam menolak ordonansi tersebut. Di minangkabau juga dilakukan penolakan dan penggagalan terhadap ordonansi ini pada tahun 1932, dengan sebuah panitia khusus.

Dengan begitu banyaknya perlawanan dari pihak Indonesia secara tegas dan pasti, maka pada bulan Februari 1933 Belanda menarik kembali ordonansi tersebut “ untuk sementara “ dan menggantinya dengan sebuah keputusan yang menetapkan syarat- syarat yang lebih lunak dalam memberikan pelajaran. Dengan demikian ,peraturan- peraturan yang dikeluarkan pemerintah untuk menghambat dan menghalang- halangi perkembangan dan pembaruan pemikiran Islam di Indonesia. Namun kenyataan berbicara lain, untuk saat ini kita masih melihat  keberadaan lembaga pendidikan yang meningkat di tengah- tengah perkembangan dunia.

BAB IV. KESIMPULAN DAN PENUTUP

  1. Kesimpulan

Dari paparan di atas, dapat di pahami bahwa kedatangan bangsa Belanda ke Indonesia dengan misi kristenisasi dan westerisasinya telah membawa dampak yang sangat merugikan bagi rakyat Indonesia, termasuk di dunia pendidikan khususnya pendidikan islam.

  1. Penutup

Dengan demikian tampak dari kebijakan Belanda telah mewarnai pola pendidikan di Indonesia sampai saat ini. Dengan sekolah umum, sebagai cerminan dari pola pendidikan Belanda, namun saat ini sudah mengajarkan pendidikan agama, pola madarasah dan pola pesantren sebagai integrasi dari kedua pola tersebut.

 

Makalah 9

 

EMPAT IMAM MADZHAB DAN MADZHAB DAUD AD- DHAHIRI

 

BAB I PENDAHULUAN

Didalam agama islam, kita sangat berhubungan dengan beberapa ilmu. Diantaranya adalah ilmu fiqih. Ilmu fiqih merupakan salah satu dari beberapa cabang ilmu di dalam agama islam. Ilmu fiqih ini mengatur berbagai permasalahan di dalam kehidupan sehari- hari seperti masalah ibadah, mu’amalah,pernikahan, mengurus jenazah dan warisan, dan lain sebagainya. Di dalam ilmu fiqih ini, tentunya kita akan menemukan berbagai hukum- hukum yang bersangkutan dengan masalah- masalah di atas. Di dalam menentukan hukum- hukum tersebut, kita tidak boleh asal dalam menentukan hukum. Disinilah kita kenal empat imam madzhab yang terkenal yaitu Imam Syafi’I, Imam Hanafi, Imam Hambali dan Imam Maliki. Bagaimanakah sejarah hidup mereka dan bagaimana mereka menentukan suatu hukum, mereka mempunyai beberapa kesamaan dan perbedaan.

BAB II PERMASALAHAN

  1. Bagaimanakah sejarah hidup dari Imam Syafi’I , Imam Hanafi, Imam Hambali, Imam Maliki dan Daud Ad- Dhahiri ?
  1. Sumber hukum apakah yang digunakan oleh Imam Syafi’I, Imam Hanafi, Imam Hambali ,Imam Maliki dan Daud Ad- Dhahiri ?
  1. Bagaimanakah metode atau Cara yang digunakan oleh Imam Syafi’I, Imam Hanafi, Imam Hambali, Imam Maliki dan Imam Daud Ad- Dhahiri dalam menentukan Hukum ?
  1. Produk Hukum apakah yang dihasilkan oleh Imam Syafi’I, Imam Hanafi, Imam Hambali, Imam Maliki dan Imam Daud Ad- Dhahiri ?

BAB III PEMBAHASAN

  1. Sejarah Singkat Imam Syafi’I, Imam Hanafi, Imam Hambali, Imam Maliki dan Imam Daud Ad- Dhahiri
  1. Sejarah Singkat Imam Syafi’i

Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Idris Asy- Syafi’i. Ia juga sering dipanggil dengan nama Abu Abdullah karena salah satu putranya bernama Abdullah.Kata Syafi’i dinisbatkan kepada kakeknya ketiga yaitu Syafi’i bin As- Sa’ib bin Abid bin Abd Yazid bin Hasyim bin Al- Mutallib bin Abd Manaf, sedangkan ibunya bernama Fatimah binti Abdullah bin Al- Hasan bin Husein bin Ali bin Abi thalib. Dari garis keturunan ayahnya, Imam Syafi’I bersatu dengan keturunan Nabi Muhammad SAW pada Abd Manaf, yaitu kakek nabi yang ketiga, sedangkan dari pihak ibunya, Ia adalah cicit dari Ali bin Abi Thalib. Dengan demikian, keduanya berasal dari bangsa Arab Qurays. Imam Syafi’I dilahirkan dalam keadaan Yatim karena Ayahnya meninggal ketika Ia masih di dalam kandungan. Ia diasuh dan dibesarkan oleh Ibunya sendiri dalam kehidupan yang sederhana bahkan kesulitan.

Pendidikanya dimulai dari belajar membaca Al- qur’an. sejak usianya yang masih dini, Ia telah memperlihatkan kecerdasanya dan daya hafalnya yang sangatlah luar biasa. Pada usia 9 tahun, Ia sudah menghafalkan seluruh isi Al- qur’an dengan lancar. Setelah bisa menghafalkan Al- qur’an, Ia berangkat ke dusun Badui, Banu Hudail untuk mempelajari bahasa Arab yang Asli dan Fasih. Ia dikenal sebagai seorang ahli bahasa arab dan sastra, mahir dalam membuat sya’ir serta mendalami adat istiadat arab yang asli. Kemudian Ia kembali ke mekah dan belajar ilmu- ilmu fiqih pada Imam Muslim bin Khalid az- Zanni. Selain itu Syafi’i belajar ilmu- ilmu yang lainya seperti ilmu hadits , ia berguru pada Imam Sufyan bin Uyainah dari Zaman, dan Ilmu Al-qur’an pada ulama besar Imam Isma’il bin Qastantin.[1]

  1. Sejarah Singkat Imam Hanafi

Nama lengkapnya adalah Hanifah Nu’man Bin Sabit. Ayahnya Sabit, berasal dari keturunan Persia yang semasa kecilnya Ia pernah diajak oleh ayahnya berziarah ke Ali bin Abi Thalib lalu Ia dido’akan agar dari keturunanya ( Sabit) ada yang menjadi ahli agama. Pada masa remajanya, dengan segala kecemerlangan otaknya Imam Hanafi telah menunjukkan kecintaannya kepada ilmu pengetahuan, terutama yang berkaitan dengan hukum islam, meskipun beliau anak seorang saudagar kaya namun beliau sangat menjauhi hidup yang bermewah- mewahan, begitu pun setelah beliau menjadi seorang pedagang yang sukses, hartanya lebih banyak didermakan dari pada untuk kepentingan sendiri.

Imam Hanafi begitu terkenal, sehingga banyak orang yang datang kepadanya untuk berguru meskipun berasal dari daerah- daerah yang sangat jauh. Diantara murid- muridnya yang terkenal yaitu Imam Abu Yusuf, Imam Muhammad bin Hasan Asy- syaibani, Imam Zufar bin Hudail, dan Imam Hasan bin Ziyad. Imam Hanafi adalah orang yang banyak beribadah kepada Allah SWT, dan sangat membenci terhadap perbuatan yang dilarang Allah, amat berhati- hati dalam mengeluarkan hukum- hukum agama, dan sedikit berbicara. Imam hanafi dikenal mempunyai sikap yang keras dan tegas terhadap segala bentuk bid’ah. Imam hanafi diberi gelar Ahlur Ra’yi karena Ia lebih banyak mengargumentasikan akal dari pada ulama yang lainya. Ia juga banyak menggunakan Qiyas dalam menetapkan suatu hukum. Meskipun begitu, Ia tidaklah mendahulukan qiyas dari pada Nash.[2]

  1. Sejarah Singkat Imam Hambali

Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. sering dipanggil dengan nama Abu Abdullah karena salah seorang putranya bernama Abdullah. Ayahnya bernama Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Anas bin Auf bin Qasit bin Mazin bin Syaiban bin Dahal bin Akabah bin Sya’b bin Ali bin Baqa bin Qasid bin Aqsi bin Dami bin Jadlah bin As’ad bin Rabi’ah bin Nizar. Pada Nizar inilah bertemu silsilah Imam Hambali dan Nabi Muhammad SAW. Ibunya bernama Shahifah binti Maimunah bin Abdul Malik bin Syawadah bin Hindur Asy- syaibani, berasal dari bangsa Bani Amir.

Karena Ayahnya meninggal pada usia muda, Hambali diasuh dan dibesarkan oleh Ibunya sendiri. Pendidikanya diawali dengan belajar membaca Al-qur;an dan ilmu- ilmu agama pada ulama- ulama di Baghdad sampai usia 16 tahun. Kemudian Ia memperdalam ilmu agama dengan mengunjungi ulama terkenal di banyak tempat seperti Kufah, Basra, Syam, Yaman, Mekah, dan Madinah.

Ibnu Hambal Adalah seorang yang cerdas, rajin, dan tekun, serta sangat cintanya terhadap ilmu pengetahuan, sehingga setiap kali Ia mendengar ada seorang guru atau ulama terkemuka di setiap tempat,dengan cepat ia berangkat kesana untuk belajar meskipun harus menempuh jarak yang sangat jauh sekalipun dan memakan waktu yang lama. Karena cintanya terhadap ilmu, Ia baru menikah pada usia 40 tahun. Pertama kali Ia menikah dengan A’isyah binti Fadl dan darinya dikaruniai seorang putra bernama saleh. Imam hambali dikenal sangat taat beribadah dan sangat zuhud. Imam Ibrahim bin Hani ( Seorang imam fikih ) yang merupakan sahabat Dari Imam Hambali mengatakan bahwa hampir setiap hari Ia berpuasa dan tidurnya sangat sedikit pada malam harinya.Karena malam harinya Ia pergunakan untuk melakukan sholat- sholat sunnah malam seperti tahajud dan witir. Menurut Imam Abdullah, putranya, Ia mengatakan bahwa ayahnya itu setiap hari membaca sepertujuh Al- qur’an dan Sepertujuh Al- qur’an setiap malamnya. Dan sholat Isya’nya sering kali bersambung dengan sholat subuhnya. Selain itu, Ia juga dikenal dengan kedermawananya karena setiap memperoleh rezeki Dia selalu membaginya untuk orang- orang yang membutuhkan dan Ia tergolong orang yang Kaya. Dan Ia pada akhirnya menjadi seorang ulama besar. Maka banyak orang yang datang untuk berguru kepadanya, Diantara murid- muridnya yang terkenal yaitu Abu Daud, Imam Abu Zur’ah, Ad- Di-Masyqi, Imam Abu Zur’ah ar- Razi, Imam Ibnu Abi ad- Dunia, Imam ASbu Bakar al- isram, Imam Hanbal bin Ishaq asy- Syaibani, Imam Saleh, dan Imam Abdullah. Dua yang terakhir merupakan putranya sendiri yang juga menjadi ulama besar.[3]

  1. Sejarah singkat Imam Maliki

Nama lengkapnya adalah  Malik bin Anas bin Malik bin Abi amir Al- Asbahi. Ia adalah seorang Ahli Hadis dan Fiqih . Pada awalnya ia belajar ilmu hadis. Kemudian Ia mempelajari ilmu fiqih. Dalam mempelajari ilmu fiqih, Ia mengarahkan perhatianya pada fiqih Ra’yu atau penalaran. Ra’yu yang dipakai adalah ra’yu corak madinah yang mana memadukan antara nas- nas dengan berbagai maslahat yang berbeda- beda. Ini menyerupai Asar ( sikap dan tingkah laku para sahabat ), yaitu metode Umar bin Khatab dalam prinsip maslahat.[4]

  1. Sejarah Singkat Daud Ad- Dhahiri

Daud az-Zahiri, sebagai pengikut mazhab Syafi’i, dengan tekun mendalami fikih dan ushul fikih imam Syafi’i. Dalam perkembangan selanjutnya, tampaknya Daud az-Zahiri melihat bahwa ternyata imam Syafi’i dan murid-muridnya juga menggunakan nalar dalam berijtihad.[3] Penggunaan nalar secara intensif dan efektif oleh imam Syafi’i dan murid-muridnya terlihat jelas ketika mereka menggunakan qias. Karena itu, Daud az-Zahiri menganggap bahwa mazhab Syafi’i dengan pendekatan qiasnya dan mazhab Hanafi dengan istihsannya sesungguhnya relatif sama dalam penggunaan nalar ketika berusaha menggali dan menetapkan hukum.Di samping itu, pada abad ke-dua hijriyah bermunculan berbagai aliran dalam rangka memahami sumber hukum Islam. Aliran Muktazilah yang lebih menonjol dalam bidang teologi terkenal dengan kemampuan akal, sementara aliran al-Bathiniyah yakni salah satu sekte aliran Syi’ah terkenal sebagai sekte yang mentakwilkan ayat Alquran al-Karim secara berlebihan. Kedua aliran tersebut menurut Daud az-Zahiri sudah melampaui batasan dalam menggunakan akal dalam memahami nash.

  1. Sumber Hukum Yang Digunakan Oleh Imam Syafi’I, Imam Hanafi, Imam Hambali, Imam Maliki Dan Daud Ad- Dhahiri

Dalam menggunakan sumber hukum, baik yang digunakan oleh Imam Syafi’I, Imam Hanafi, Imam Hambali, Imam Maliki dan Daud Ad- dhahiri memiliki beberapa perbedaan dan persamaan tertentu. Imam Syafi’I menggunakan Al- Qur’an, Al- Hadis yaitu Hadis Ahad dan Hadis Mutawatir, Ijma’, qiyas, dan istidlal ( penalaran). Imam Hanafi menggunakan Al- qur’an, Al- Hadis As- Shahih, Fatwa dari para sahabat, Qiyas, istihsan, ijma’ dan Urf. Imam Hambali menggunakan Al- qur’an, Al- Hadits Shahih, Hadis mursal dan Dhaif, Fatwa sahabat dan sedikit memakai qiyas. Imam Maliki menggunakan Al- qur’an, Al- Hadits , Ra’yu, Fatwa sahabat, qiyas, dan Az- Zara’i.Sedangkan Daud ad- Dhahiri memakai Al- qur’an, Al- Hadits dan Ijma’ sebagai dasar hukum.

  1. Metode Atau Cara Penetapan Hukum
    1. Imam Syafi’i

Dalam menetukan suatu Hukum, Imam syafi’I menggunakan cara- cara sebagai berikut      :

  1. Al- qur’an

Dalam menetapkan suatu hukum, Imam syafi’i pertama kali menggunakan AL- qur’an. Ia terlebih dahulu melihat makna lafdzi ( perkataan ) Al- qur’an. kalau suatu permasalahan tidak menghendaki makna lafdzi, maka ia mengambil makna Majazi ( kiasan ).

  1. Al- Hadits

Ketika Ia tidak menemukan suatu dasar permasalahan di dalam Al-qur’an secara jelas, maka ia mengambilnya dari Hadits. Ia menggunakan hadits Ahad ( yang perawinya satu orang ), juga hadits Mutawatir ( Yang perawinya banyak orang )

  1. Ijma’
  2. Qiyas
  3. Istidlal ( penalaran )[5]
  4. Imam Hanafi

Dalam menetapkan suatu hukum, Imam Hanafi menggunakan beberapa dasar dan cara, yaitu             :

  1. Al- qur’an

Dalam menetapkan suatu hukum, terlebih dahulu Ia mencari Nash di dalam Al- qur’an.

  1. Al- Hadits

Selain memakai Nash Al- qur’an, Ia juga menggunakan hadits Nabi dalam menetapkan suatu hukum. Ia menggunakan hanya hadis- hadis yang sahih.

  1. Fatwa dari para sahabat

Ketika Ia tidak menemukan dasar untuk menetapkan suatu hukum di dalam Al- qur’an maupun Al- Hadits, maka ia mengambil jalan lain yaitu dari fatwa- fatwa para sahabat terutama Khulafaur Rasyidin ( Abu Bakar As- Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib).

  1. Qiyas

Qiyas hanya digunakan ketika dasar hukum tidak didapatinya secara jelas di dalam Al- Qur’an, Al- Hadis, maupun fatwa dari para sahabat.

  1. Istihsan
  2. Ijma’
  3. Urf, yaitu adat yang berlaku di masyarakat.[6]
  4. Imam Hambali

Dalam menetapkan Suatu Hukum, Imam Hambali menggunakan beberapa sumber dan  cara yaitu     :

  1. Nash Al- qur’an dan Hadis Shahih

Dalam menetapkan suatu hukum, pertama kali Ia mengambil dari Nash Al-qur’an, jika tidak menemukan, Ia mencari dari Hadis Shahih.

  1. Fatwa Para Sahabat

Apabila Ia tidak menemukan dasar untuk menentukan suatu hukum di dalam Al- qur’an maupun Al- Hadis As- Shahih, Maka Ia mengambil dari fatwa Sahabat Nabi yang disepakati.

  1. Hadis Mursal ( bersambung ) dan hadis dhaif (lemah ) yang bukan disebabkan kecurigaan akan kebohongan perawinya.

Ketika Ia sudah tidak menemukan dasar di dalam Al-qur’an, Al- Hadis maupun Fatwa para Sahabat, Maka ia menggunakan Hadis Mursal dan Hadis Dhaif. Ia lebih mengutamakan Hadis Dhaif daripada pemikiran akal ( Ra’yu ).

  1. Qiyas

Qiyas hanya dilakukan dalam keadaan terpaksa / darurat.

  1. Imam Maliki

Dalam menetapkan suatu hukum, Imam Maliki menggunakan metode yaitu :

  1. Al- qur’an
  2. Al- Hadits
  3. Praktek penduduk madinah

Yaitu praktek yang digunakan jika praktek itu benar- benar dinukilkan dari nabi SAW. Praktek ini dasarnya adalah ra’yu ( penalaran ) bisa didahulukan atas Khabar Ahad

  1. Fatwa Sahabat
  2. Qiyas
  3. Az- zara’I, yaitu sarana yang membawa pada hal- hal yang diharamkan maka akan menjadi haram pula, sarana yang membawa pada hal- hal yang halal, maka akan menjadi halal pula.[7]
  4. Daud Ad- Dhahiri

Metode yang digunakan oleh Daud Ad- Dhahiri yaitu :

  1. Al-qur’an, Untuk menentukan suatu hukum, Ia menggunakan Al- qur’an Al- Karim.
  2. Al- Hadits
  3. Ijma’
  4. Produk Hukum

Dalam menentukan hukum dengan metodenya masing- masing, maka baik Imam Syafi’I, Imam Hanafi, Imam Hambali, Imam Maliki dan Daud Ad- Dhahiri mereka menghasilkan beberapan produk hukum yang semuanya itu telah terangkum dan tertuliskan dalam karya- karya tulis mereka antara lain            :

  1. Imam syafi’I, antara lain :

Ar- Risalah  ( kitab tentang ushul fiqih ), Al- Umm ( Kitab tentang fikih yang komprehensif ), Al- Musnad ( Hadis- hadis Nabi Muhammad SAW), Ikhtifal Al- hadits dan yang lainya lagi.

  1. Imam Hanafi, antara lain :

Al- fara’id , yaitu kitab yang khusus membicarakan masalah warisan dan segala ketentuanya menurut hukum islam., Asy- Syurut, yaitu kitab yang membahas tentang perjanjian, Al- Fiqh AL- Akbar, yaitu kitab yang membahas ilmu kalam atau teologi dan diberi Syarah ( Penjelasan ) oleh imam Abu Mansur Muhammad Al- Maturidi dan Imam Abu Al- Muntaha Al- Maula Ahmad bin Muhammad Al- Magnisawi.

  1. Imam Hambali, antara lain :

Dalam usaha dan cara- caranya itulah Imam Hambali menghasilkan Berbagai Produk Hukum yang telah tertulis dalam berbagai buku- buku karanganya antara lain Tafsir Al- qur’an, Kitab An- Nasikh Wa Al- Mansukh ( Kitab Mengenai ayat- ayat yang menghapuskan dan dihapuskan hukumnya ), Kitab Jawaban Al- qur’an, Kitab Muqoddam wa al- Mu’akhhar fi Al- qur’an ( Buku tentang ayat- ayat terdahulu dan yang kemudian diturunkan ), Kitab Tarikh ( Buku Sejarah ), Kitab Al- manasikh As- Saghir ( Buku kecil tentang ayat- ayat yang dihapuskan ), Kitab Al- Illah ( Buku tentang sebab- sebab hukum ), Kitab Ta’at Ar Rasul ( Buku tentang ketaatan Rasul ), Kitab Al- wara’ ( Buku mengenai ketakwaan ).

  1. Imam  Maliki, antara lain :

Al- Muwatta’ ( Kitab tentang hadits dan fiqih )[8]

  1. Daud Ad- Dhahiri, antara lain :

Kitab al-hujjah, adalah bukut tentang argumentasi, kitab al-Khabar al-Mujib li al-Ilmi, yakni kajian tentang informasi keilmuan,  kitab al-Khusus wa al-Umum, buku tentang penjelasan lafal umum dan khusus, kitab al-Mufassar wa al-Mujmal, mengenai lafal yang jelas dan tidak jelas pengertiannya, kitab al-Ifta al-Qiyas, yakni masalah penolakan atas qias, Ifta al-Taqlid, buku yang berisi mengenai larangan bertaklid, Khabar al-Wahid, buku tentang hadis Ahad.

BAB IV KESIMPULAN DAN PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Dalam bidang fiqih kita mengenal empat Imam Madzhab yaitu Imam Syafi’I, Imam Hanafi, Imam Hambali, dan Imam Maliki. Pada dasarnya, masing- masing dari mereka memiliki latar belakang yang berbeda- beda, dari imam syafi’I yang hidup sangat sederhana dan kekurangan, namun Ia sangat cerdas dan ingatanya sangat luar biasa, Imam Hanafi yang tergolong orang kaya namun Ia tidak suka bermewah- mewahan, malah Ia justru mendermakan hartanya bagi yang membutuhkan, Ia juga tergolong orang yang cerdas dan tekun pula. Masing- masing mempunyai cara –cara atau metode- metode dalam menentukan hukum, yang darinya ditemukan beberapa persamaan dan perbedaan baik dari dasar maupun cara yang digunakan. Namun ada satu madzhab lagi yang lain yaitu madzhab Dhahiriyah yang dicetuskan oleh Daud Ad- Dhahiri. Sebenarnya Ia adalah pengikut madzhab Imam syafi’I, namun pada akhirnya Ia membentuk Madzhab sendiri. Maka timbulah madzhab baru yang biasa disebut dengan madzhab Dhahiriyah.

  1. PENUTUP

Demikianlah makalah ini saya buat. Semoga dengan pembuatan makalah ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi diri saya sendiri maupun bagi para pembaca yang budiman. Tiada manusia yang sempurna. Maka saya menyadari, dalam pembuatan, penulisan, maupun penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan. Untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan. Dan semoga bisa memberikan manfaat bagi siapa saja yang membaca.

DAFTAR PUSTAKA

 

Departemen Pendidikan Nasional. Ensiklopedia islam, jilid 1. Jakarta : PT Ichtiar Baru van Hoeve , 2002.

Departemen Pendidikan Nasional. Ensiklopedia islam, jilid 2. Jakarta : PT Ichtiar Baru van Hoeve , 2002.

Departemen Pendidikan Nasional. Ensiklopedia islam, jilid 3. Jakarta : PT Ichtiar Baru van Hoeve , 2002.

Departemen Pendidikan Nasional. Ensiklopedia islam, jilid 4. Jakarta : PT Ichtiar Baru van Hoeve , 2002.

Departemen Pendidikan Nasional. Ensiklopedia islam, jilid 5. Jakarta : PT Ichtiar Baru van Hoeve , 2002.


[1] Departemen Pendidikan Nasional. Ensiklopedia Islam Jilid 4 . Jakarta: ICHTIAR BARU VAN HOEVE, 2002, hal.326.

[2] Departemen Pendidikan Nasional. Ensiklopedia Islam Jilid 2 . Jakarta: ICHTIAR BARU VAN HOEVE, 2002, hal.79.

[3] Departemen Pendidikan Nasional. Ensiklopedia Islam jilid 2 . Jakarta: ICHTIAR BARU VAN HOEVE, 2002, hal 81.

[4] Departemen Pendidikan Nasional. Ensiklopedia Islam jilid 3 . Jakarta: ICHTIAR BARU VAN HOEVE, 2002, hal 142- 143.

[5] Departemen Pendidikan Nasional. Ensiklopedia Islam jilid 4 . Jakarta: ICHTIAR BARU VAN HOEVE, 2002, hal 326- 327.

[6] Departemen Pendidikan Nasional. Ensiklopedia Islam jilid 2 . Jakarta: ICHTIAR BARU VAN HOEVE, 2002, hal 80- 81.

[7] Departemen Pendidikan Nasional. Ensiklopedia Islam jilid 3 . Jakarta: ICHTIAR BARU VAN HOEVE, 2002, hal. 142- 143.

[8] Departemen Pendidikan Nasional. Ensiklopedia Islam jilid 3 . Jakarta: ICHTIAR BARU VAN HOEVE, 2002 , hal. 142- 143.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s